Coretan Neng Dea

Coretan Neng Dea

Sabtu, 22 Juni 2013

Secercah Mimpi Bunda (cerpen)


Secercah Mimpi Bunda


“Apaan mau jadi penulis novel? Memangnya nggak ada kerjaan yang gajinya bisa lebih dari itu ya?” ucap Ayah saat mendengar percakapan antara ibu dan anak yang sedang berada di ruang tamu.
“Maksudnya bukan pekerjaan tetap Ayah... itu kan hanya sekedar hobi aja yah... kalau emang berhasil sih..”
“Mau di lanjutkan? Inget.. Tiga tahun lagi kamu bakal menyandang gelar sebagai sarjana hukum bukan sebagai sarjana novel. Jadi fokus belajar!!” Ayah pun pergi karena tak mau lama-lama berdebat dengan anaknya itu. Bunda hanya bisa menenangkan anak semata wayangnya itu dengan membelai rambutnya sambil terus mengucapkan sudah..sabar..sabar..nak,
            Mutiara Putri atau yang lebih sering disebut Mutie adalah anak satu-satunya dalam keluarga itu. Sebagai anak tunggal, Ayah merasa khawatir pada kehidupannya kelak oleh sebab itu ayah selalu mengatur hidupnya dengan alasan agar tak salah jalan dan sebagainya. Berbeda dengan sifat Ayahnya, Bunda malah mendukung penuh niat baik gadis itu untuk menjadi seorang penulis.
“Asal kan pendidikan mu jangan sampai terabaikan ya..” nasihat Bunda selalu terngiang di telinganya. Mutie mengangguk dan tersenyum tanda setuju.
            Sebagai seorang mahasiswi semester dua, ia masih sibuk mencari jati dirinya. Masuk universitas usulan sang Ayah membuatnya menjadi kalut. Bayangkan saja, ia senang dengan hal-hal yang berhubungan dengan puisi dan prosa namun Ayah malah dengan sengaja mendaftarkan dirinya ke fakultas hukum yang sama sekali tak menarik minatnya sedikitpun. Namun apa boleh buat selama setahun ini ia mendalami semua pasal-pasal juga undang-undang meskipun sempat terbesit di dalam benaknya untuk pindah jurusan.
***

            Suatu ketika ada informasi beasiswa di kampusnya.
“Hah? Nggak salah nih? Yang menang beasiswa bisa pindah jurusan sesuai yang di inginkan? Dan gratis biaya selama empat semester?”
“Pengumuman beasiswa yang aneh.. Masih kepengen pindah mut?” Mutie tersenyum malu seolah menyembunyikan sesuatu di hatinya saat Dhea, teman kampusnya bertanya.
“Yang penting Ayah jangan sampai tahu kalau aku pindah toh aku kan masih kuliah di universitas ini” ujarnya.
“Bukannya selama setahun kita kuliah di sini kamu belum pernah buat karya ilmiah?”
“Iya juga sih selama ini cuma pasal-pasal aja yang nempel di pikiran kita. Mata kuliah bahasa indonesia aja jarang tuh nyuruh bikin makalah. Hufh... harus mulai ke perpus nih” Mutie berjalan melewati beberapa koridor dengan penuh semangat.
***
“Pokoknya nanti kalau Mutie masuk jurusan itu, Mutie janji nggak akan ngecewain bunda deh.. Mutie akan belajar dengan serius dan bunda nggak usah biayain Mutie.. kalau beasiswanya udah abis, Mutie nanti mau cari uang sendiri dari hasil penjualan novel pertama Mutie”
“Memangnya Novelmu udah terbit?”
“Belum sih.. masih dalam proses penyelesaian... minta doanya ya Bun..”
            Untungnya saat mengobrol, tak terlihat Ayah berada di dalam rumah jadi mereka lebih leluasa membicarakan hal tersebut.
***
Betapa terpukulnya hati Mutie, ia tak mampu mengungkapkan kekesalan yang bergejolak didalam dadanya. Cita-citanya yang ia pupuk semenjak masih duduk dibangku SMA kini telah pupus tak dapat lagi ia raih. Mendapat beasiswa dengan nilai karya ilmiahnya yang tinggi, tak lagi membuat semangatnya muncul saat ia mendengar kabar bahwa ia di terima di jurusan sastra indonesia.
 Kini angan-angan itu harus ia tunda dahulu. Memang, dokter tak menyebutkan kapan kakinya bisa pulih kembali tapi sepertinya itu akan menjadi sedikit penghalang untuk dirinya bisa beraktifitas seperti biasa.
Ini adalah hari terakhir dirinya di rumah sakit setelah satu minggu ia di rawat karena kecelakaan motor yang mengakibatkan kakinya tak lagi berfungsi dengan baik. Kini hanya kursi roda yang setia menemaninya kemana-mana meski untuk sekarang ini ia lebih senang menyendiri di dalam kamarnya dengan laptop sebagai penghiburnya. Keadaannya yang kini tak memungkinkan untuk menimba ilmu di bangku kuliah justru ia manfaatkan waktu-waktu tersebut untuk meneruskan hobinya untuk menulis.
***
“Ayah bilang juga apa? Nggak usah lah sok ngirim-ngirim tulisanmu ke media cetak segala. Sekarang lihat kamu begini gara-gara hobimu itu kan?” seperti biasa, setelah mengomel, Ayah selalu pergi tanpa pamit.
            Ya... beberapa waktu yang lalu ketika Mutie menjalankan sepeda motornya dalam perjalanan menuju sebuah kantor penerbit dan percetakan buku ia terserempet oleh motor lain sehingga terjadilah tabrakan. Tapi ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Itu hanya musibah. Musibah yang tak pernah ia tahu.
            Bunda menghampirinya dengan senyum yang selalu melegakan hati Mutie.
“Jangan patah semangat ya sayang.. lakukan apa yang ingin kamu lakukan.. jangan sampai.. kamu menyesal nantinya”
“Maksud Bunda?” Dari sorot mata perempuan empat puluh tahun an itu, Mutie menangkap ada sesuatu yang belum pernah diungkapkan Bunda terhadapnya.
“Dulu Bunda pernah punya cita-cita seperti kamu nak.. tapi semua Bunda kubur dengan terpaksa karena saat menikah dengan Ayahmu, dia melarang Bunda meneruskan hobi Bunda itu...dan akhirnya penyesalan itu terus berlanjut sampai di hari ini. Bunda senang melihat bakat Bunda yang secara tak sengaja menurun padamu tapi di sisi lain Bunda tak tahu harus bagaimana. Bunda hanya bisa mendoakanmu agar Ayah tak memperlakukanmu lagi seperti beberapa waktu terakhir ini. Dan Bunda yakin kamu bisa menggapai cita-citamu nak.. Doa Bunda akan selalu mengalir untukmu”
            “Jadi... dulu Bunda juga senang menulis seperti Mutie?”
            “Ya... Ayahmu baru mengetahui hobi Bunda setelah setahun kami menikah dan ia benar-benar tak suka”
            “Kenapa Bunda? Apa gara-gara gaji seorang penulis yang sangat kecil?”
            “Bukan Mut, itu hanya alibinya saja. Sebenarnya Ayahmu bersikap seperti itu karena beliau tak mau kehilangan Bunda” Mutie diam saja, Bunda pun melanjutkan ucapannya.
            “Ayah punya anggapan dahulu Bunda lebih mementingkan naskah-naskah yang Bunda tulis dibanding dengan keluarga padahal tidak seperti itu. Seringnya Ayahmu melihat Bunda mengetik di komputer lama Bunda yang kini entah ada dimana keberadaannya, ia jadi merasa kalau Bunda tak peduli lagi terhadap Ayahmu karena sepulangnya dari kantor, Ayah selalu melihat Bunda hanya mengetik dan mengetik terus”
            “Jadi karena alasan itu sampai saat ini Ayah yang sangat aku hormati masih tak setuju dengan pilihanku untuk meneruskan hobiku ini” gumam Mutie. Tak berapa lama kemudian ia melihat sosok wanita di hadapannya itu meneteskan air matanya. Mutie tak bisa menyembunyikan perasaan kecewanya terhadap Ayah.
            “Jangan pernah membenci Ayah ya... kamu harus yakinkan Ayah bahwa kalau kamu jadi penulis nanti, kamu tak akan pernah mengabaikannya”
            “Bun,,”
            “Teruskan lah mimpi Bunda sewaktu muda dulu. Bunda sangat menaruh harapan pada kamu Mut,”  Mutie refleks memeluk Bundanya dengan penuh cinta.
            “Bunda akan terus mendoakan Mutie?”
            “Selalu... sayang”
***
Beberapa minggu kemudian rumahnya di datangi seorang petugas dari kantor pos. Sebuah paket kiriman dari penerbit buku. Mutie membukanya perlahan. Nama dirinya tertulis jelas di cover depan.
“Siapa yang ngirim? Waktu itu kan aku nggak sempat sampai di kantor penerbit nya.. apakah...?” dengan teriakannya yang keras ia memanggil-manggil nama orang yang telah mengandungnya selama sembilan bulan itu.
“Bunda nggak ada waktu untuk mengirimkan naskahmu ke penerbit” jawab Bunda saat disinggung mengenai novelnya yang kini ia genggam.
“Lha.. terus... siapa?”
Suara motor Ayah yang baru saja di parkirkan di depan rumah mereka membuat Mutie juga Bunda segera menghampiri sosok laki-laki itu.
            “Ayah... Mutie sayang banget sama Ayah...” ingin rasanya Mutie beranjak dari kursi rodanya itu tapi ia belum bisa berjalan lagi.
            “Ada apa nih kok tumben bilang gitu sama Ayah?”
            “Mutie harus tahu dari mulut Ayah langsung. Kenapa kok Ayah jadi luluh padahal kemarin-kemarin tuh Ayah tetep ngotot nggak mau lihat anaknya jadi penulis”
            “Ayah menyesal waktu dulu pernah bersikap seperti itu juga pada ibumu jadi Ayah nggak mau mengulang kesalahan yang sama lagi. Kamu tahu, Ayah melakukan ini karena secara diam-diam Ayah sering melihat ibumu tak hentinya berdoa dan menangis untukmu di kamar setelah kecelakaan itu terjadi dan Ayah pun berinisiatif mengirimkan tulisanmu itu”
            “Lihat ini yah..” ucap Mutie sambil menyodorkan buku novel pertamanya.
“Mulai sekarang hiduplah sesuai apa yang kamu inginkan, kami berdua tak akan melarang kamu”
“Makasih Ayah.. Makasih Bunda.. Mutie janji pilihan Mutie ini tak akan pernah mengecewakan siapapun..” mereka bertiga pun larut dalam dekapan kasih sayang layaknya keluarga yang utuh.
***
Dua bulan berlalu. Mutie akhirnya sembuh dan dapat beraktifitas kembali. Kini dengan statusnya yang terdaftar sebagai mahasiswi jurusan sastra indonesia, ia tetap berniat untuk mengembangkan minat serta bakatnya dalam hal menulis. Itu semua tentunya tak lepas dari doa sang Bunda yang selalu setia mendukungnya hingga Ayah pun yang awal mulanya bersikap keras menentang hobinya itu menjadi luluh karena doa yang tak henti mengalir dari Ibundanya. Mutie sangat senang bisa merealisasikan apa yang selama ini menjadi mimpi sang Bunda. Dan impian itu kini ada pada diri putri semata wayangnya. Menjadi seorang Penulis.
***



Biodata:
Yanfa An Nury adalah nama pena dari Dea Nuryanti. Perempuan yang kini masih menuntut ilmu di Universitas Islam Nusantara Bandung ini, lahir pada tanggal 18 juli 1991. Gadis yang sangat menyukai K-pop dan K-drama ini dapat dihubungi melalui FB dheya.chubbyz@facebook.com atau follow Twitter @adzadheniez . Gomawo... (Terima kasih)  J


Selasa, 18 Juni 2013

Namja Ter-Cute (Flash True Story)

Namja Ter-Cute


Virus yang sedang beken dan mendunia saat ini adalah tersebarnya KPOP Fever. Dan akulah salah satu dari pengidap virus itu. Aku tetap bangga meskipun ada segelintir orang yang mencemooh trend korea tersebut.
Semua ini berawal dari music. Aku mulai kagum pada penyanyi korea karena musik mereka yang unik, easy listening, dan gaya menyanyi mereka yang eye catching juga lucu.
Kim Ryeowook adalah salah satu artis korea yang aku kagumi setelah aktor korea Hyun Bin. Ya.. namja yang sering disebut sebagai eternal magnae oleh sesama membernya di boyband Super Junior ini, selain memiliki wajah paling imut juga mempunyai suara yang unik dengan nada tinggi. Itu lah alasanku mengapa bisa mengidolakannya.
Ini semua bermula saat boyband Super Junior sedang booming-booming nya di tanah air. Karena rasa penasaranku yang tinggi, aku pun sengaja meminta MV No Other pada salah satu temanku. Memang saat itu yang paling disukai kaum hawa adalah Choi Siwon atau sang leader Leeteuk. Akan tetapi hanya satu wajah yang mampu mencuri perhatianku ketika mereka bernyanyi di video clip terebut.
Wajah handsomenya selalu hadir di pikiranku sampai-sampai aku mencari tahu tentangnya di internet. Sebelumnya aku bertanya pada saudaraku yang memang “gila korea” juga.
“Ryeowook kalau nggak salah namanya, yang di video no other yang lagi cuci mobil kan?” ucap Lutfi, saudaraku memberi tahuku.
Dengan secepat kilat aku pun mulai mengklik google dari komputer dan mengetik nama artis korea itu dan keluar lah segala informasi mengenai dirinya. Pria kelahiran 21 juni 1987 itu memang sangat berbakat. Selain menyanyi, ia pun pintar memainkan gitar dan piano. Dance nya pun tak kalah bagus dari teman-temannya.
Wookie, begitulah para Ryeosomnia (nama fans Ryeowook) memanggilnya. Laki-laki kelahiran Incheon, Korea Selatan ini memang terlihat sangat baby face meski sudah berusia seperempat abad. Entah mengapa aku selalu suka semua lagu yang ia nyanyikan baik saat solo atau saat menyanyi bersama boyband  nya.
Honesty, I Still With You, One Fine Spring Day, Keu Saram, Kamsahamnida, There Is Me Around, Nae Noon Mool Mo Ah, Smile Again, If You Love Me More, Just Like Now adalah lagu wajib yang harus mengiringiku setiap pagi karena dengan mendengar suaranya aku pun bisa semangat menjalani aktifitasku. Satu lagu favoritku adalah lagu yang ia nyanyikan duet bersama Beige yang berjudul When Falling In Love With A Friend. Suara khasnya terdengar sangat merdu. Bahkan sempat aku berimajinasi andai saja aku yang berduet dengannya, pasti lah aku akan menjadi yeoja yang sangat beruntung di dunia.
Ada satu kejadian lucu saat aku memutar lagu-lagu yang ia nyanyikan. Sebuah lagu yang berjudul Insomnia dengan bangga aku putar di hadapan keponakanku sambil mulutku tak mau kalah mengeluarkan lirik-lirik dengan suara falsku tersebut namun tak berapa lama kemudian keponakanku menghentikanku.
“Oh lagu ini aku juga punya” katanya sambil memutar sebuah lagu mirip lagu yang sedang ku putar dari MP3 ku.
“Ah tetep lebih enak versi Ryeowook Oppa” ucapku.
“Emang sih kalau lagu aslinya lebih cepet iramanya ya” ujar keponakanku.
“Lagu asli? Mana? Yang itu? bukannya itu lagu Ryeowook?” tanyaku dalam hati.
Saat ku lihat layar Handphone saudaraku, tertera nama Craig David di Playlist yang sedang ia putar. Anio... aku salah kira. Jadi itu lagu orang yang sengaja dinyanyikan oleh sang idolaku. Aku pun mengulum senyum dan akhirnya cengengesan sendiri. Malu.
Namja tercute lainnya adalah Hyun Bin. Pesona pemeran utama Secret Garden ini mampu membuatku jatuh cinta seketika karena actingnya dalam film drama korea yang diputar di salah satu stasiun televisi swasta indonesia. Hingga suatu saat aku pun sengaja meminta ingin diantar oleh teman kampusku untuk membeli beberapa kaset DVD yang didalamnya terdapat peran dirinya. World Within dan My Lovelly Samsoon adalah film drama lainnya yang diperankan oleh Hyun Bin yang pernah aku tonton.
Meski kini penampilannya persis tentara layaknya namun kharismanya tak pernah luntur. Aku menyebutnya cute karena ketika ia beradu akting dengan artis korea lainnya dalam sebuah drama, selalu tampak sisi lucu dan handsome dari raut wajahnya. Selain berakting, lelaki yang akan menyelesaikan wajib militer di akhir tahun 2012 ini juga ternyata memiliki bakat menyanyi. Itu terbukti dari lagu “That Man” yang ia nyanyikan sebagai soundtrack Secret Garden menerima respon positif dari para pendengar. Itu pun menjadi salah satu lagu favoritku. Sampai-sampai karena seringnya aku memutar lagu That Man, kakak laki-lakiku yang tak suka sama sekali pada musik korea malah menjadi hafal lagu Hyun Bin tersebut.
Kekagumanku pada dua namja itu tak berakhir sampai disana. Bahkan jejaring sosial Facebook pun aku gunakan sebagai wadah untuk fans club keduanya. Beberapa bulan yang lalu aku sengaja membuat sebuah grup yang khusus aku beri nama “Hyunbin & Ryeowook Suju Fans Club” agar para pecinta karya mereka bisa saling share namun karena baru dan anggota grupnya pun belum lebih dari 200 jadi tak begitu ramai dikunjungi.
Meski harapanku yang ingin menjadi yeoja chingu nya mereka tak kan mungkin tercapai namun kedua pria itu akan selalu menjadi idola hatiku. Karena musik, aku mencintai mereka. Yongwonhi.. mereka tetap namja ter cute ku.

Keterangan:
Namja              = laki-laki
Yeoja               = perempuan
Chingu                        = teman
Anio                = tidak
Yongwonhi     = selamanya

Sholat Pertama Yanfa (cerita anak)

Sholat Pertama Yanfa



Yanfa adalah anak kedua dari pasangan Pak Sulaiman dan Ibu Ayu. Parasnya yang cantik dan lucu membuat semua orang menyukainya. Selain itu ia pun termasuk anak yang sangat periang di lingkungannya. Ia sekarang berusia lima tahun dan baru saja masuk sekolah di taman kanak-kanak dekat rumahnya.
Yanfa mempunyai satu kakak perempuan yang bernama Anita. Anita kini bersekolah di SMP (Sekolah Menengah Pertama) kelas 3. Mereka sangat akur dan saling menyayangi satu sama lain. Sebagai seorang kakak, Anita selalu memberi contoh yang baik pada adiknya. Hal itu yang membuat Yanfa tumbuh menjadi seorang anak yang baik hati dan selalu menghargai orang lain.
Setiap hari Anita selalu bangun pagi sekali untuk menunaikan sholat subuh bersama ayah dan bundanya. Adiknya, Yanfa tak diajak dikarenakan usianya yang masih terhitung dini jadi kedua orangtuanya pun belum mengajarkan ibadah sholat padanya.
~JJJ~
Hari ini adalah hari senin dan itu tandanya seisi rumah akan mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Yanfa sekolah TK, Anita berangkat sekolah ke SMP nya dan kedua orangtuanya akan sibuk bekerja ke kantornya masing-masing.
Seperti biasanya Bundanya tak tega jika harus membangunkan anak bungsunya terlalu pagi oleh karena itu Anita yang lebih sering membujuk adiknya untuk bangun dari tempat tidurnya.
“Ade Yanfa yang cantik... bangun yuk, lihat tuh ayam aja udah buka mata hehehe”
“Kakak..” ujar Yanfa yang langsung menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya.
“Masih ngantuk ya?”
“Iya kak sebentar lagi ya”
Lima belas menit kemudian badan Yanfa yang mungil mulai bergerak turun dari ranjangnya. Ia pun pergi ke kamar mandi dengan segera.
“Ayo sayang, itu air hangat nya udah siap” ucap Anita.
“Ayah dan Bunda udah berangkat ya kak?” Anita pun mengangguk.
“Padahal masih pagi ya kak” ujar Yanfa dengan suara pelan. Wajahnya terlihat sedikit kecewa.
“Tenang aja adikku sayang, nanti kakak yang anterin kamu ke sekolah. Jangan manyun gitu ah bibirnya jadi kayak bebek tuh. Hehehe” mereka pun tertawa.
~JJJ~
Suatu ketika jam weker di kamar Yanfa berdering pagi-pagi sekali. Sebelumnya ia memang telah mempersiapkan alarm pukul 05.00. Dan seperti biasanya terlihat kakaknya bersama kedua orangtuanya sedang bersiap-siap untuk sholat subuh berjamaah. Anita pun masuk ke kamar mandi dan dengan tiba-tiba langkah kaki Yanfa pun tergerak mengikuti kakaknya itu. Seusai berwudhu, Anita menghampiri Ayah dan Bundanya dan mulailah mereka sholat dua rakaat.
Beberapa menit kemudian Yanfa mulai memberanikan diri untuk menyentuh air dan mengambilnya dari dalam bak kamar mandi dengan gayung di tangan kanannya.
“Hiii dingin,” ucap Yanfa dengan kedua tangan bergetar.
“Tadi apa dulu ya? Ini atau ini?” Yanfa terlihat kebingungan sambil menunjuk-nunjuk kepala dan tangannya.
“Ah bismillah aja deh,” Satu persatu anggota badannya mulai basah. Yanfa masuk ke kamarnya dan mencari mukena kakaknya yang disimpan di dalam lemari.
“Wah mukenanya besar banget tapi nggak apa-apa deh jadi hangat” ucap Yanfa sambil merekatkan kain mukena pada badannya.
~JJJ~
Keesokan harinya Yanfa mengulangi lagi apa yang ia lakukan sewaktu kemarin subuh. Kali ini ia bangun pukul setengah enam pagi. Ia buru-buru pergi ke kamar mandi dan berwudhu lalu sholat di kamarnya.
“Sayang, kamu udah bisa sholat?” tanya Anita tiba-tiba mengagetkannya saat masuk kamar padahal Yanfa baru sholat satu rakaat.
“Kakak? hmm... aku...”
“Nah lho kan belum selesai sholatnya kok udah ngomong?”
“Habis kakak ngagetin sih”
“Yanfa, kamu kan masuk TK baru satu minggu, emang siapa yang ngajarin kamu sholat? Ayah? Atau Bunda?” Yanfa menggeleng.
“Iya juga sih nggak mungkin mereka. mereka kan sibuk. Sholat berjamaah aja cuma pas waktu subuh doang. Terus, siapa sayang?” lagi-lagi Yanfa menggeleng.
“Kamu nggak mau cerita sama kakak?” Anita melihat bola mata Yanfa yang mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba Yanfa memeluk kakaknya itu sambil menangis.
“Eh, kok malah nangis? Cup.. cup...” Anita berusaha menenangkan adik satu-satunya itu.
“Yanfa pengen belajar sholat?” tanya Anita.
“Pengen kak tapi nggak ada yang mau ngajarin Yanfa jadi Yanfa belajar sendiri aja” jawabnya polos. Anita langsung tersenyum.
“Sayang, Ayah dan Bunda belum bisa ngajarin kamu karena mereka sibuk bekerja dan juga kamu masih terlalu kecil untuk melaksanakan ibadah sholat jadi kamu belum punya kewajiban untuk sholat”
“Tapi Yanfa pengen sholat berjamaah sama kalian”
“Alhamdulillah keinginan adikku untuk belajar beribadah sangat besar sekali. Baiklah nanti biar kakak yang ajarkan kamu ya”
“Benar kak?” tanya Yanfa antusias. Anita pun mengangguk.
~JJJ~
Sepulang dari sekolah, Anita pun menepati janjinya untuk mengajari adiknya sholat. Dengan teliti, Yanfa memperhatikan satu persatu gerakan wudhu yang dicontohkan kakaknya.
“Ayo sekarang kamu coba wudhu seperti apa yang kakak perlihatkan barusan” Yanfa mengangguk.
“Jangan lupa baca basmallah ya”
Anita senang melihat adiknya begitu semangat untuk ingin belajar sholat. Saat memakai mukena pun adiknya selalu bertanya ini itu saat gerakan sholat dilakukan oleh kakaknya.
“Ini namanya sujud dan yang tadi ruku. Bacaannya hampir sama cuma beda akhirnya aja, inget-inget ya sayang”
Subhana robbial adzim” ucap Yanfa sambil mempraktek kan ruku.
“Nah pinter adikku. Kalau sujud jangan lupa bacaannya subhana robbial a’la” Yanfa mengangguk.
~JJJ~
Selama hampir satu jam mereka belajar praktek sholat. Saking khusyuknya suara bel pintu rumah mereka pun tak terdengar jelas.
“Pada kemana nih anak-anak kok sepi begini” Ternyata Ayah dan Bundanya sudah pulang dari kantor, Mereka pun mencari Anita dan Yanfa hingga ke kamar mereka. Disana lah Bunda mendapatkan anak bungsunya sedang belajar beribadah tanpa bimbingan dari kedua orang tuanya.
“Sayang maafin Bunda” ucap Bunda dengan tiba-tiba lalu memeluk Yanfa sambil meneteskan air matanya. Ayah pun masuk ke dalam kamar dengan perasaan kagum pada kedua anaknya.
“Bunda... Alhamdulillah sekarang Yanfa udah bisa sholat lho,”
“Ayah, kak Anita lho yang ngajarin aku wudhu dan sholat” lapor Yanfa pada Ayahnya.
“Makasih sayang, kamu benar-benar jadi contoh kakak yang baik untuk adikmu” kata Ayahnya. Anita pun dipeluk oleh Ayah serta Bunda sambil diciumi keningnya.
“Asyik nanti subuh kita berempat sholat berjamaah ya”
“Iya sayang, pasti.. kalau sempat kita semua tak hanya sholat subuh saja yang berjamaah tapi juga sepulang kami dari kantor, kita sholat maghrib dan isya bersama”
“Alhamdulillah...” ucap Anita dan Yanfa.
~JJJ~
Setelah kejadian itu mereka menjadi lebih sering menunaikan sholat fardhu bersama-sama dan Yanfa pun diajarkan lebih mendalam mengenai ibadah lainnya seperti membaca al-qur’an oleh kakak dan kedua orangtuanya.
“Terima kasih ya Allah atas semuanya. Semoga sholat pertama Yanfa bisa engkau terima. Amin” Doa Yanfa seusai menunaikan sholat subuh berjamaah.

~JJJ~

Angel Fault (Fiksimini)

Angel Fault

     Hujan deras malam itu membuat rasa takut Angel semakin memuncak. Sebuah klakson mobil tiba-tiba saja mengagetkannya. Lumpur yang bercampur air hujan pun tak luput mengotori baju putih abunya saat mobil itu melintas. Dan ketika mobil itu mulai menghilang dari pandangannya, ia terus berkomat-kamit menyumpahi orang yang telah membuat dirinya kesal.
     Keesokan harinya Angel harus berangkat ke sekolah pagi sekali karena ada piket kelas. Saat melewati lapang basket, terlihat seorang siswa baru yang meski tangan kirinya di perban, ia tetap memainkan bola dengan gagahnya. Jantungnya berdebar tak karuan. Mungkin itu yang disebut cinta pada pandang pertama. Sepulang sekolah dengan modal nekat Angel pun berniat menghampirinya. Di parkiran sekolah nampak cowok itu memasuki sebuah mobil yang sepertinya pernah dilihat oleh Angel sebelumnya.
Memorinya menyimpan ingatan yang kuat saat dia menyumpahi seorang pengendara mobil yang telah membuat bajunya kotor kemarin malam.
     “Eh tau nggak kemarin dia tabrakan” ujar seorang teman Angel.


Kejutan yang Mengejutkan (cerpen)

Kejutan yang Mengejutkan


Wajah handsome, otak encer, dompet tebal. Ya... itulah Aku. Bukannya narsis atau overdosis eh overpede maksudnya, tapi inilah hidupku. Kenyataan bahwa Aku terlahir dari sebuah keluarga yang kaya raya tak membuatku menjadi orang yang sombong. Temanku juga sangat banyak. Di kampus aku adalah idola yang sering menjadi pusat perhatian mahasiswa lainnya. Kisah percintaanku.. hmm tak perlu di ragukan lagi, sampai usiaku yang ke dua puluh satu tahun ini Aku sudah memiliki hampir lima belas mantan pacar. Bukannya Aku sering mempermainkan hati mereka namun wanita-wanita itu yang mempermainkan perasaanku. Mereka mendekatiku hanya demi materi semata. Ckckck... ya sudahlah sekarang statusku yang sedang single tak membuat hidupku berbeda kok.
Hari ini Aku ke kampus agak siang karena dosennya pun selalu datang terlambat. Aku sibuk mencari kunci mobilku di dalam kamar namun tak ku temukan juga. Seorang bodyguardku masuk dan memberikan sebuah benda.
“Kemarin malam waktu Den Yuda pulang dari pesta ulang tahun teman Den Yuda, saya tak sengaja melihat kunci ini disimpan begitu saja di luar teras jadi saya bawa masuk saja” Panggilan Den atau Raden oleh semua pembantu dan bodyguard di rumah kepadaku adalah sebutan untuk menandakan bahwa Aku terlahir sebagai anak dari orang tua ningrat. Sifat pelupaku memang agak kronis tapi seluruh keluargaku sudah memahaminya jadi mereka tak cepat marah bila Aku melakukan kesalahan kecil. Setelah mendapatkan kunci itu dan berpamitan kepada ke dua orang tuaku, Aku pun masuk ke dalam mobil baruku yang berwarna ungu.
Selain populer di antara teman-teman, Aku juga disegani oleh para dosen karena mereka tahu Aku adalah anak semata wayang seorang pejabat di kota kami. Namun itu semua tak lantas membuat senyumku berkurang, Aku malah ingin lebih sering menyapa dan bersua dengan mereka.
Sebagai seorang mahasiswa semester lima jurusan sastra inggris dengan IPK yang lebih dari 3,6 Aku sering menjadi asdos (asisten dosen) bila perkuliahan tak dapat dihadiri oleh si dosen. Aku selalu menjadi orang sibuk di kampus. Meski Aktif di semua organisasi, Aku pun sering menyempatkan diri untuk membaca buku di perpustakaan. Aku berhasil mengubah paradigma yang mengatakan bahwa orang yang pergi ke perpus adalah seorang kutu buku namun kini anggapan itu bisa ku ubah. Perpus adalah tempat nongkrong orang-orang cerdas dan gaul. Karena itu pula kini banyak mahasiswa yang mengikuti apa yang Aku lakukan, tentunya semua yang sifatnya positif.
Eits, tapi tunggu dulu.. itu semua hanya ada dalam anganku saja.
***
Karena moodku sedang tak baik, Aku putuskan untuk membereskan buku tulisku. Aku harus menunda sejenak hobiku itu. Ku lihat di sekelilingku tampak begitu berantakan. Ke empat adikku lah yang selalu membuat keadaan rumah seperti itu. Mau tak mau Aku pun harus selalu membereskannya agar tak mendapat omelan dari ibu dan Ayah saat mereka pulang.
Yuda Saputra adalah nama lengkapku. Cita-cita ku adalah menjadi seorang penulis namun Aku tahu impianku itu tak kan mungkin tercapai. Mungkin hanya kuli pasar yang pantas menjadi pekerjaanku untuk saat ini. Sebagai anak sulung dalam keluarga itu Aku sudah merasakan pahitnya hidup semenjak dari usia lima tahun, usia yang seharusnya berada dalam perhatian lebih orangtua. Aku tak mengenal bangku TK seperti orang-orang sepantaranku. Saat usia itu Aku sudah sering diajak Ayah ke pasar untuk berjualan. Kini SMA yang letaknya berada di dekat rumah adalah bukti bahwa Aku benar-benar serius belajar di bangku sekolah. Dengan mengajukan beasiswa dari kelurahan Aku pun bisa mengenyam pendidikan hingga kelas tiga sekarang. Meski hidup dalam kesederhanaan Aku tidak pernah mengeluh asalkan seluruh anggota keluargaku bisa makan setiap hari meski hanya dengan tahu dan tempe, Aku tak  pernah merasa kekurangan.
“Yuda...” panggil ibuku yang baru saja datang dengan membawa banyak makanan.
“Wah.. dagangan di pasar di borong sama siapa Bu? Lihat ini ibu belanja banyak banget” ujarku dengan sangat gembira.
“Itu bukan milik kita! Tadi ada pembeli di pasar yang nitip, rumahnya di sekitaran sini juga, nanti sore baru mau di ambil” jelas beliau. Ibu tersenyum saat melihat ekspresi wajahku yang berubah drastis.
“Besok tolong anterin kue-kue ini ke alamat ini ya” Ibu menyodorkan secarik kertas yang berisikan alamat rumah seseorang. Aku hanya mengangguk sebari membereskan kue-kue itu.
***
Di sela-sela waktu santaiku, Aku selalu menyempatkan diri untuk melakukan hobi yang sudah lama ku minati semenjak di bangku SMP. Bermula dari menulis buku harian semenjak sekolah dasar membuatku jadi terbiasa dalam merangkai kata-kata dalam sebuah tulisan. Dan tak heran saat masuk sekolah menengah atas, Aku selalu mendapatkan nilai yang sangat baik dalam pelajaran bahasa indonesia terutama dalam sastranya, baik itu puisi ataupun prosa. Maka dari itu berawal dari bakat yang secara tak sengaja melekat di dalam diriku tersebut, sekarang Aku selalu berangan-angan untuk menjadi seorang penulis seperti Raditya Dika ataupun sang idolaku Andrea Hirata.
Aku selalu mencari semua buku tulis bekasku semenjak SMP yang ku rasa masih bisa terpakai untuk sekedar menggoreskan pena di atas kertas putih itu. Sudah banyak buku-buku yang terpenuhi oleh coretan-coretanku. Pernah ada teman sekolahku yang menyarankan padaku untuk mencoba mengirimkan tulisanku itu di media cetak ataupun di media online (internet) tetapi rasa percaya diriku belum muncul juga. Masih terselip rasa takut jika tulisanku tak disukai pembaca nantinya.
***
            Saat akan pergi mengantarkan pesanan kue ibuku dengan sepeda bututku tiba-tiba saja Aku mendapat kabar bahwa orang yang akan ku hampiri kali ini adalah orang-orang yang bekerja di sebuah perusahaan penerbitan buku. Sejenak muncullah rasa penasaran dibenakku. Bagaimana kalau Aku ke sana dengan membawa setidaknya satu naskahku, kali aja bisa diterbitkan.
            Setelah berpamitan Aku pun meluncur menuju alamat rumah yang tertera di kertas yang sedang ku pegang. Satu kejutan yang ku dapat saat penghuni rumah itu keluar adalah Aku mengenal orang itu. Wanita yang usianya ditaksir sepantaran denganku membukakan pintu rumah tersebut.
            “Udah datang ternyata, Ayo Yuda masuk” ucapnya.
            “Iya” jawabku singkat.
            Tak lama kami mengobrol karena Aku pun harus segera pulang untuk bersiap-siap sekolah siang hari ini. Tak banyak pula yang kami bicarakan saat itu karena orang tuanya juga sedang tak ada di rumah.
            Di sekolah Aku kembali bertemu dengannya. Teman sebangku ku itu selalu membuatku merasa nyaman. Namanya Yanfa. Nama kami diawali oleh inisial huruf yang sama, itu juga yang membuat kami makin dekat apabila ada tugas kelompok karena biasanya guru selalu membagi muridnya sesuai abjad huruf yang ada di absen kelas. Satu yang ku kagumi darinya adalah meski ia tahu keadaan ekonominya jauh lebih baik dariku tetapi ia tak pernah memperlihatkan semua itu di hadapanku. Ia selalu menjadi teman yang paling mengerti keadaanku.
            “Aku baru tahu ternyata kantor penerbitan itu punya orang tuamu ya?” Yanfa hanya mengangguk dengan memberikan senyumannya yang paling manis.
            “Gimana kabar novelmu?” tanya gadis itu.
            “Belum beres nih masih banyak yang harus di perbaiki”
            “Nanti kalau udah selesai boleh kan kalau Aku membacanya?”
            “Boleh sih tapi masih dalam bentuk tulisan tangan, belum sempat Aku mengetiknya ke rental komputer” ucapku sedikit malu.
Makin hari Aku pun makin semangat untuk menulis apalagi jika sudah bersama-sama dengan orang yang mempunyai hobi serupa denganku. Setiap pulang sekolah Aku selalu meminta pendapat perempuan itu mengenai tulisanku yang ku rencanakan akan selesai sebelum hari ulang tahunku. Namun bila memang nanti sudah selesai apa yang bisa ku perbuat dengan naskahku tersebut, sepertinya tak ada. Bahkan di tahun-tahun sebelumnya pun sebelum Aku mengenal Yanfa, Aku tak pernah mendapatkan sesuatu yang spesial di hari kelahiranku tak seperti orang-orang yang selalu merayakannya dengan segala macam pesta mewah. Satu yang Aku harapkan hanyalah novelku ini sebagai kado terindah di ultahku yang ke delapan belas tahun nanti.
***
            Empat bulan kemudian Aku berhasil membereskan tulisanku dan satu minggu lagi hari ulang tahunku akan ku lewati. Di dalam keluargaku, hari kelahiran memang tak pernah diperingati hanya saja kami selalu membuat syukuran kecil-kecilan dengan membuat sedikit nasi tumpeng yang kemudian kami bagikan pada tetangga.
            Pagi-pagi buta sekali ada seseorang yang mengetuk rumah kami. Segera ku buka dengan sedikit tergesa-gesa. Aku sangat kaget saat mengetahui Yanfa sudah berdiri tegak di hadapanku ketika pintu terbuka. Dengan alasan bahwa hari ini adalah weekend ia pun menyuruhku untuk segera membersihkan diri lalu kami berdua pergi berolahraga di taman kota.
            “Kemarin malam Aku tak sempat selesaikan bacaan novelmu, jadi tak apa kan kalau tulisanmu itu masih harus ku pinjam dulu?”
            “Hmm.. iya nggak apa-apa, silahkan” di dalam hati, ingin rasanya Aku mengutarakan bahwa naskah itu ingin sekali ku terbitkan namun ternyata gadis yang sedang duduk di sampingku ini tak terlalu peka meski orang tuanya adalah pemilik kantor penerbitan. Ya sudahlah tak mungkin juga kalau Aku harus memaksanya menerbitkan novel jelekku itu. Yang terpenting sekarang adalah aku memiliki teman terbaik yang benar-benar tulus menjadi sahabatku.
***
            Rutinitas sehari-hari yang ku lakukan pun tak ada yang berbeda. Pergi ke pasar untuk membantu Ayah berjualan di pagi hari dan berangkat ke sekolah di siang hari. Dan seperti biasanya juga bila ada waktu rehat sejenak selalu ku gunakan untuk mengasah kemampuanku dalam menulis. Akan tetapi sudah lima hari ini Aku tak bisa sharing dengan Yanfa. Di sekolah pun kami hanya bertemu saat ada pelajaran saja jadi tak ada waktu lebih untuk mengobrol.
            Kekhawatiranku akan sikapnya yang berbeda sekarang ini membuat perasaan di dalam dadaku menjadi tak karuan. Naskahku yang memang masih ada padanya pun tak mampu ku pinta untuk saat ini. Tadinya Aku ingin mengirimkannya ke penerbit indie tetapi karena masih ada di rumahnya Aku pun harus mengurungkan niat tersebut.
***
            Sabtu ini Aku bangun agak siang karena pekerjaanku semalam membantu ibu membuat kue berdampak pada ke dua mataku yang ingin selalu menutup dan menyandarkan kepala di atas bantal. Ku lihat jam dinding yang terpajang di tembok rumah kami yang agak kotor. Sudah pukul sembilan ternyata. Aku harus meminta maaf pada Ayah nanti karena tak membantunya di pasar hari ini. Setelah keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri, Aku pun berniat untuk pergi ke rumah seorang perempuan yang semenjak malam selalu mengganggu pikiranku. Aku buka toples kue yang berisi penuh oleh kue kering yang telah ku buat kemarin. Aku mengelap toples itu dan membungkusnya dengan keresek hitam yang tak ada estetikanya sama sekali. Tapi tak apa lah toh yang akan di makan itu kan isinya bukan luarnya.
            Ku langkahkan kaki ke luar rumah dengan menjinjing sebuah keresek. Banyak yang menatapku dengan aneh pada saat itu tapi Aku tak memperdulikannya. Saat tiba di depan rumahnya Aku pun mulai mengetuk pintu tetapi yang membukakan ternyata adalah orang tuanya, ia tak ada di sana. Dengan kekecewaan yang menggunung di benakku akhirnya ku putuskan untuk kembali ke rumah lagi tetapi Aku kesulitan saat akan membuka pintu rumahku sendiri. Mungkinkah seisi rumah sedang berpergian dan parahnya Aku tak membawa kunci cadangan kali ini.
            Berjam-jam Aku diam di luar depan rumahku. Tak ada yang ingin ku lakukan pada saat itu. Aku hanya ingin beristirahat di dalam rumah namun keluargaku belum pulang juga. Ku intip jam dinding dari jendela luar rumah. Sudah pukul tiga sore tetapi Aku masih lumutan di kursi depan rumah. Mataku pun tak dapat di ajak kompromi. Bisa-bisanya indera penglihatanku kini meminta untuk di istirahatkan. Aku pun tertidur pulas dengan badan sedikit membungkuk.
            Tak berapa lama kemudian Aku mendengar sayup-sayup suara langkah kaki yang mengarah menuju diriku yang sedang terduduk di kursi. Saat mencoba membuka mata dan terbangun dari rasa kantukku yang sangat luar biasa, di sana lah Aku melihat pemandangan yang menggembirakan hatiku. Aku terkejut saat seorang perempuan cantik berjalan menghampiriku. Ia membawa sebuah benda yang dibungkus oleh kertas kado berwarna biru.
            “Yan..Yanfa..” Ucapku tak percaya saat ku lirik dibelakangnya ternyata hadir juga semua teman-teman sekelasku di sana. Mereka semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku dengan nada fals. Aku sangat terharu, terlebih karena Yanfa kini mau datang menemui diriku. Ia pun menyodorkan kado itu padaku. Serentak semua teman-teman berkata “Buka..buka..” dan Aku pun menyobek bungkusan kertas itu dengan perlahan.
Secara tak sadar Aku refleks memeluk gadis itu karena tak kuasa menahan rasa senangku. Saat ia memanggil namaku dengan terbata-bata, Aku segera melepaskan pelukanku.
            “Maaf..” ucapku malu-malu.
            Sungguh Aku tak percaya kini Aku bisa menggenggam sebuah buku yang di cover depannya tertera nama lengkapku dengan sangat jelas. Inikah yang di lakukannya beberapa waktu lalu saat Aku rasa ia sedang menjauhiku?. Ya.. pasti.
            Terima kasih Yanfa.. Akhirnya Aku bisa merasakan betapa bahagianya saat mengetahui ada orang lain yang mengingat hari ulang tahunku. Kejutan ini benar-benar membuatku sangat terkejut dan tak mampu ku ungkapkan dengan kata-kata. Meskipun Aku pandai merangkai kata dalam tulisanku tetapi entah mengapa kali ini Aku hanya bisa tersenyum melihat senyuman yang juga terpancar dari wajahmu.

***

Dermaga Penantianku (cerpen)

Dermaga Penantianku


Saat itu usiaku belum genap delapan belas tahun. Sebagai anak bungsu didalam keluarga, Aku sangat dekat sekali dengan ayah karena semenjak ibuku meninggal dunia setelah melahirkanku, sosok orangtua yang Aku kenal hanyalah beliau. Aku mempunyai tiga kakak kandung, dua diantaranya sudah menikah dan berkeluarga dan kini sudah tak lagi tinggal bersama kami sedangkan kakakku yang satu lagi jarak usianya hanya berbeda tiga tahun dariku dan masih betah melajang hingga sampai saat ini.
Hanya berstatus sebagai lulusan sekolah menengah atas, Aku seringkali membantu Ayah berjualan makanan dan minuman ringan ditempat Ayah bekerja. Ayah adalah seorang pegawai kebersihan biasa di sebuah pelabuhan dengan gaji yang cukup lumayan. Terkadang Ayah di ajak ikut berlayar untuk sekedar mengerjakan tugasnya yaitu membersihkan kapal.
***
Seperti biasanya hari ini Ayah menyuruhku untuk segera datang ke pelabuhan. Pukul lima subuh Aku sudah stand by di tempat di mana kami mencari sesuap nasi. Untungnya sepeda bututku masih setia mengantarku kesana kemari. Evan, Kakakku bekerja di tempat yang berbeda. Hari ini Ayah datang agak siang jadi Aku yang harus membereskan dan mengecek makanan apa saja yang masih ada dan sudah habis di toko kami.
Tak biasanya di hari senin ini dermaga dipadati oleh banyak orang berseragam putih biru. Setelah mendengar percakapan dua orang ibu di sebelah ku ternyata hari ini ada pelepasan sekolah pelayaran. Pantas saja banyak anak muda berseragam putih biru itu mengantri untuk dapat masuk ke dalam kapal. Di kota kami memang terkenal dengan sekolah pelayarannya karena letaknya yang di kelilingi oleh perairan. Sebelum mereka naik ke dalam kapal, beberapa di antaranya mampir terlebih dahulu ke toko kecil ku hanya sekedar untuk membeli minum ataupun cemilan makanan.
Di antara beberapa siswa itu ada satu orang yang kulihat terus memperhatikan gerak gerikku. Karena merasa risih dibuatnya, akhirnya Aku menatapnya dengan tatapan tajam dengan maksud agar laki-laki itu segera mengalihkan pandangannya akan tetapi lelaki itu malah tersenyum. Manis sekali. Tak berapa lama kemudian mereka pun bersiap-siap naik ke kapal.
“Mbak ada salam tuh dari orang itu!” ucap seorang siswa dan telunjuknya menunjuk pada orang yang memperhatikan diriku sedari tadi. Dari kejauhan sempat-sempatnya orang tersebut melambaikan tangan padaku.
Bersamaan dengan itu, Aku dikagetkan dengan suara Ayah yang muncul secara tiba-tiba dari belakang. Ku lihat sosok lelaki lima puluh tahun an itu sedang sibuk membereskan barang-barang yang kemudian dimasukannya ke dalam ransel besarnya.
Aku baru ingat ini bulan ke enam dalam tahun ini dan itu waktunya Ayah ditugaskan untuk ikut berlayar ke luar pulau. Setelah Ayah merasa semua barangnya telah siap, beliau pun berpamitan padaku dan cepat-cepat masuk ke kapal yang juga dinaiki oleh segerombolan siswa sekolah pelayaran tadi.
Aku pun meraih handphone yang sengaja ku simpan di bawah etalase toko lalu jempolku mulai mengetik dengan lincahnya di atas tombol-tombol telpon genggamku itu. Semoga Kakakku segera membaca pesan singkat yang baru saja kukirimkan padanya bahwa Ayah sudah berangkat.
Keesokan harinya tak ada yang berubah meski di rumah kini hanya ada Aku beserta kakakku saja. Dahulu sempat terfikir dibenakku untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah tapi melihat keadaan yang tak memungkinkan akhirnya Aku harus mengurungkan niatku tersebut. Melakukan rutinitas sebagai penjaga toko sendiri adalah pekerjaan yang cukup menyenangkan karena tak perlu disuruh-suruh oleh atasan, selain itu juga tempat kami berjualan pun Aku pikir cukup strategis. Meski tak pernah menaiki kapal tapi entah mengapa Aku merasa senang melihat pemandangan kapal yang berlayar di sekitar pelabuhan tempatku berjualan.
***
Enam bulan telah berlalu dan Aku masih mengingat dengan jelas wajah orang yang kini datang menghampiri tokoku. Ia duduk di kursi yang tak begitu luas yang diletakan di depan kaca etalase toko kami.
“Umay” Ucapnya dengan nada ramah sambil menyodorkan tangan kanannya padaku.
“A..aku.. Dara” jawabku dengan sedikit tersenyum.
Kini lelaki berusia dua puluh tahun itu tak terlalu membuatku merasa terganggu lagi dengan tatapan anehnya seperti kesan pertama dahulu saat ia mengunjungi tokoku dengan teman-teman dari sekolah pelayarannya. Cukup lama kami mengobrol hingga Aku tahu ternyata dia adalah salah satu alumni dari sekolah pelayaran itu dan kini lebih sering ikut berlayar dan tak hanya ke luar pulau saja tetapi pernah juga sampai ke luar negeri. Ia akan ikut berlayar setiap enam bulan sekali persis seperti ayahku, bedanya ayahku ikut berlayar karena beliau ditugaskan untuk menjaga dan membersihkan kapal tak sama seperti apa yang dilakukan Umay tentunya.
Kami mengobrol sangat akrab karena ternyata ia juga mengenal Ayahku sewaktu di kapal. Sebelumnya ayahpun pernah menceritakan sosok pemuda baik hati yang dikenalnya secara tak sengaja saat berlayar namun karena saat itu aku tak tertarik dengan ceritanya aku pun tak bertanya lebih jauh tentang siapa pemuda tersebut.
***
Sesampainya di rumah, Aku bergegas menemui Ayah yang sedang asyik membaca koran di kursi ruang tamu. Aku mulai membuka percakapan meski akhirnya sedikit demi sedikit Aku mulai bertanya mengenai orang itu tetapi sepertinya Ayah tahu maksudku yang sebenarnya dengan membaca gelagatku yang salting (salah tingkah).
Tak pernah ada waktu yang paling ku tunggu selain pagi hari karena saat itu pula lah Aku bisa kembali ke pelabuhan bukan untuk melihat orang yang berlalu lalang tetapi untuk berjumpa dengan seseorang.
***
Pagi ini adalah sabtu yang sangat cerah. Lima bulan sudah Aku berteman baik dengan dirinya. Banyak hal yang kami ceritakan. Mungkin karena banyak persamaan juga pada diri masing-masing dan akhirnya itu yang menjadikan kami selalu connect saat mengobrol.
Akan tetapi kali ini Aku harus ditemani oleh Kakakku untuk menjaga toko. Sempat terbesit dalam pikiranku untuk menyuruh kakak laki-lakiku itu pulang karena sebentar lagi akan ada yang mencariku. Tetapi tak ada alasan kuat untuk mengusirnya. Beberapa menit kemudian pembeli mulai berdatangan. Seharusnya jam segini ia sudah datang tapi hingga pukul dua siang batang hidungnya tak muncul-muncul.
“Dara, Kakak pulang ya soalnya harus nganterin barang ke rumah teman” ucap Kakakku dengan mata sedikit mengantuk.
“Oke..” jawabku sumringah.
“Lho.. ditemenin cemberut, nah ini mau ditinggalin malah seneng banget kayaknya” agar tak membuatnya curiga, Aku pun memasang wajah paling imut didepan kakak kandungku itu.
Setelah Kak Evan pergi, keadaan toko pun tak terlihat perbedaannya. Tak terlalu sepi namun tak terlalu ramai juga. Aku pun menyibukkan diri dengan bermain games di telpon genggamku. Tak terasa dua jam pun berlalu dan kini mataku mulai lelah karena menatap layar handphone terlalu lama. Baru saja kedua mataku ingin menutup tiba-tiba terdengar seseorang yang suaranya mulai familiar di telingaku. Aku beranjak dan keluar toko untuk menghampiri pembeli tersebut.
Ku lirik jam yang melekat di tangan kiri lelaki itu. Sudah pukul empat lebih. Aku bisa menebak pasti hari ini ia terlambat ke pelabuhan karena pekerjaan sampingannya sebagai Tours guide memakan waktu yang cukup lama.
“Oya Ra, Aku punya sesuatu buatmu” Aku hanya mengira-ngira barang apa yang akan ia berikan padaku dan tak berapa lama kemudian ia pun mengeluarkan sebuah bungkusan kecil yang dikeluarkan dari saku jacketnya.
Setelah ku buka plastik yang membungkus benda itu, ku temukan sebuah kalung berinisial nama kami berdua terpajang didalam kotak kecil berwarna merah.
“Anggap aja ini sebagai hadiah dari sahabatmu, Ra” ia pun memasangkannya tepat di leherku. Namun entah mengapa Aku merasakan kesedihan yang mendalam saat ia mengutarakan bahwa esok hari ia akan kembali berlayar.
***
Aku tak pernah mengerti apa arti perasaan yang berkecimuk didalam dadaku saat ini. Saat melihatnya pergi, dengan secepat kilat Aku merasa separuh hatiku ini telah ikut dibawa pergi olehnya.
“Di dermaga ini pasti kita akan bertemu kembali” itulah kata-kata terakhirnya yang kudengar saat ia akan meninggalkan pelabuhan.
Kali ini Ayahku tak ikut berlayar dengan rombongannya. Itu juga salah satu yang membuat diriku mengkhawatirkan keadaannya. Apa yang bisa kuperbuat disini saat menunggunya kembali, tak ada. Aku tak bisa menghubunginya dengan alat-alat canggih zaman modern sekarang ini. Satu-satunya yang ku lakukan adalah menantinya mengunjungiku kembali di dermaga ini, di pelabuhan ini.
Dermaga ini mempunyai kenangan yang tak pernah bisa ku lupakan. Disini Aku bertemu untuk pertama kalinya dengan dirinya dan disini pula Aku harus melihatnya pergi untuk berlayar kembali.
***
Delapan bulan Aku tak mendapatkan kabar tentangnya. Saat bertanya pada teman-temannya di sini, ternyata ia memang belum pulang. Selesai menutup toko Aku selalu menyempatkan diri ke dermaga untuk mencari dirinya. Mungkin saja ia akan ada saat Aku berada di tempat itu. Tetapi harapanku itu ku kubur dalam-dalam saat mengetahui dirinya belum muncul juga.
Di saat-saat kegelisahan menerpa hatiku, tiba-tiba Ayah membawa kabar bahagia. Katanya, kapal yang membawa Umay berlayar dini hari akan sampai di pelabuhan. Ku putuskan sampai dini hari nanti Aku akan tetap menunggunya di sana. Di dermaga, tempat dimana kami berjanji akan berjumpa lagi.
Pukul 00.30 terdengar sayup-sayup keramaian yang berasal dari luar. Aku segera keluar dan mengunci toko. Dermaga pada jam seperti ini sangat dipadati banyak orang. Aku tak bisa langsung menemukan sosok lelaki itu. Setelah berkeliling mencarinya ternyata Aku tahu bahwa itu bukan kapal yang ditumpanginya. Kecewa pun menjalar di seluruh perasaanku. Dengan sangat terpaksa Aku meninggalkan dermaga itu dan kembali ke rumah.
***
Berbulan-bulan telah ku lewati tanpa sosok lelaki yang ku akui telah menorehkan rasa itu di lubuk hatiku.
“Cuaca memang sedang kurang baik jadi tak heran kalau kapal yang dipakai berlayar oleh Umay sedikit terlambat sampai ke pelabuhan” jelas Ayah padaku.
Ini adalah tahun ke dua diriku menjalani aktifitas tanpa mengetahui keberadaannya. Beberapa kali Ayah menenangkanku tetapi entah mengapa hati kecil ini akhirnya selalu mencemaskan pemuda itu.
Disaat keputusasaan menguasai pikiranku tiba-tiba saja Aku ingin sekali pergi ke dermaga, tentunya masih berharap agar bisa bertemu lagi dengannya. berjam-jam Aku diam di sana hingga Aku tak sadarkan diri saat ada sebuah kapal yang baru saja sampai di pelabuhan. Pikiranku masih penuh oleh bayang-bayang lelaki itu.
Tiba-tiba Aku merasakan ada dua tangan yang menutup mataku dari arah belakang. Dengan sekuat tenaga Aku mencoba melepaskan tangannya yang besar itu. Tapi Aku tak bisa berbuat apa-apa saat wajahku berada tepat sejajar dengan wajahnya. Aku memukuli badannya dengan maksud menumpahkan kekesalan hatiku yang selama ini telah menunggu kedatangan dirinya.
            Dermaga ini adalah saksi penantianku terhadapnya dan di dermaga ini pula akhirnya kami saling mengetahui benih-benih cinta yang kini telah tumbuh di hati kami berdua. Umay berjanji akan berada di sisiku mulai dari detik ini dan ia juga tak akan mau membiarkanku menunggunya terlalu lama lagi untuk yang kedua kalinya.

***