Teriknya
matahari di siang ini membuat pemuda berusia tujuh belas tahun itu seakan-akan
terbakar hatinya karena pekerjaannya hari ini belum juga usai. Terkadang ia
melamun sendiri bila ingat bagaimana nasibnya bersama sang ayah. Ibunya sudah
lama meninggalkan mereka saat Arey lahir ke dunia. Setelah ia lulus dari
sekolah menengah atasnya, kini ia bekerja pada sebuah agen koran. Arey termasuk
anak yang cukup cerdas sewaktu dibangku sekolah dan dengan kelebihan itu
seharusnya Arey bisa bekerja ditempat yang lebih baik tetapi faktor ekonomi lah
yang membuatnya selalu dipandang rendah oleh orang-orang sekitarnya sehingga
hanya loper koran lah yang kini menjadi pekerjaan tetapnya selama dua tahun
terakhir ini. Menjalani hidup dalam sebuah kontrakan sederhana yang cicilan
perbulannya hanya sebesar Rp250.000 tak membuat pemuda ini menjadi patah semangat
untuk menjalani hidupnya.
“Hari
ini laku berapa korannya?” tanya ayah mengagetkan lamunannya. Arey hanya
tersenyum sambil menghela nafas panjang. Tumpukkan koran yang ia letakkan di
atas trotoar jalan memperjelas ayahnya bahwa hari ini koran yang ia bawa tak
terjual banyak. Seperti biasanya koran-koran sisa tersebut akan ia jual kembali
setengah jam kemudian setelah ia beristirahat sejenak jika tidak ia harus menyerahkannya
kembali pada si agen. Pekerjaaan ayahnya yang hanya sebagai petani biasa tak
cukup untuk membiayai kehidupan mereka karena biasanya ayah hanya digaji dua
minggu sekali dan uang yang didapatkannya pun tak lebih dari seratus ribu rupiah
tiap sekali gajian. Ayah sengaja menghampiri anak semata wayangnya itu hanya
untuk memberikan makan siang. Ayah memang tak mau melihat Arey sakit.
“Makasih
ayah...” Arey memeluk ayahnya erat-erat. Sempat terlintas dibenaknya bagaimana
caranya membalas budi baik ayahnya yang sudah merawatnya sampai sebesar ini
dengan didikkan dan kasih sayangnya yang tulus. Ia ingin sekali memberikan
makanan enak pada ayahnya, membelikan baju bagus dan juga memberikan rumah yang
nyaman. Tapi kini yang bisa ia berikan hanyalah rengekan-rengekan kecil seiring
tekadnya yang memang ingin sekali melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah. “Maafin
Arey yah..” ujarnya dalam hati dengan penuh penyesalan.
“Ya
sudah ayah pulang lagi ya pekerjaan ayah belum beres nanti Pak Beni marah lagi
sama ayah kalau ngeliat sawahnya belum digarap” senyum simpul yang terpancar
diwajah ayahnya itu malah membuat Arey sedikit cemas, ia takut ayahnya terlalu kelelahan
dengan pekerjaannya yang berat.
Seusai
makan dengan nasi uduk yang dibelikan ayahnya dari warteg (warung tegal) itu,
Arey pun melangkahkan kakinya untuk kembali menjajakan koran-koran yang masih
ia pegang kuat oleh dua tangannya.
“Koran...
koran..” Arey masuk ke dalam sebuah bis Damri. Meski hanya beberapa orang saja
yang membeli korannya tetapi ia senang sekali. Ia berangan-angan ingin
mempersembahkan uang yang ia dapat hari ini untuk membelikan sesuatu untuk ayahnya.
“Tapi
tunggu... kalau hanya dari hasil menjual koran saja pasti tak akan cukup untuk
memberikan baju dan makanan untuk ayah...” ia melirik lembaran koran yang masih
tersisa dipangkuannya. Ia mengambilnya dan muncullah sebuah ide. Beruntungnya
menjadi seorang penjual koran adalah ia bisa mengetahui berbagai informasi
secara gratis dengan membaca semua berita yang tertera dikoran yang ia bawa.
Senja
sudah hampir tenggelam tetapi Arey tak buru-buru untuk pulang kerumahnya, ia
malah mampir terlebih dahulu kesebuah warnet (warung internet) disekitar
rumahnya.
“Hasil
hari ini ada limabelas ribu... kalau dipakai Rp2500 tak apa-apa kan?” tanyanya
pada dirinya sendiri. Ia pun segera masuk kedalam ruangan tersebut. Jari-jarinya
lincah menari pada keyboard komputer
dengan memikirkan sosok ayahnya. Ia terus mengetik sampai akhirnya keluar dari
sana tepat saat adzan maghrib berkumandang.
“Assalamualaikum...”
tak ada jawaban dari dalam rumah. Arey pun mengetuk pintu sedikit keras.
Mungkin Ayah sedang tidur, pikirnya. Beberapa jam kemudian dua temannya
memanggilnya dengan panik dari luar rumah. Tangan Arey ditariknya cepat setelah
teman-temannya menjelaskan suatu kejadian yang telah menimpa Ayahnya.
“Mungkin
dia terlalu bersemangat bekerja” bisik Pak Beni pelan yang tak mau disalahkan.
Ayahnya pingsan seusai menggarap sawah milik Pak Beni.
“Hari
ini ayah sedang puasa pantes saja beliau bisa seperti ini. Bekerja dari pagi
sampai malam dan sekarang...” ungkap Arey. Ia pun membawa ayahnya ke rumah
dengan dibantu ke dua temannya.
Sesampainya
di rumah, dengan sigap ia berlari menuju sebuah warung untuk membeli bubur.
Ayah pun bangun matanya berkaca-kaca melihat anak lelakinya itu.
“Jangan
sampai kamu nanti jadi seperti ayah ya” miris rasanya Arey mendengar perkataan
ayahnya tersebut ia hanya bisa menundukkan kepalanya.
Tiga
minggu setelah kejadian itu kini ayahnya menjadi sering sakit-sakitan. Wajar
saja bagi bapak usia enam puluh tahun itu, kesehatan akan kurang terjaga
seiring melihat kehidupan sehari-harinya yang sangat pas-pasan. Arey tak mau
melihat ayah tercintanya lama-lama terbaring didalam rumah kontrakan, ia pun
terus berusaha mencari uang untuk dapat membawa ayahnya ke rumah sakit.
Seperti
biasanya seusai berjualan koran, ia pasti mampir terlebih dahulu ke sebuah
warnet seolah-olah kegiatan itu memang sudah menjadi rutinitasnya setiap hari.
Ia baca beberapa email yang masuk di salah satu jejaring sosial yang
ia punya.
“Alhamdulillah...”
ucapnya menyeringai gembira. Ia terlihat sibuk mengeluarkan sobekan koran yang
ia simpan di saku bajunya.
“Mas,
boleh pinjem pulpen nggak?” tanyanya pada si operator warnet. Dengan cepat tangannya menuliskan beberapa digit nomor telpon yang tertera di salah
satu pesan emailnya tersebut.
Saat
sampai di rumah, ia pun menyiapkan makanan untuk ia makan bersama ayahnya.
Tahu, tempe dan dua bungkus nasi yang ia beli di warung dekat rumahnya menemani
malam mereka yang dingin dan kini perut Arey serta ayahnya tak lagi bernyanyi.
“Ayah
mungkin besok anakmu ini akan pulang sedikit terlambat tapi nanti Arey akan
titipkan makanan pada tetangga untuk dimasak buat ayah..” ujarnya dalam hati.
Keesokan harinya Arey meminta ijin
pada si agen koran untuk pulang lebih siang karena akan pergi ke suatu tempat. Setelah
di ijinkan ia pun mencari telpon umum untuk menghubungi nomor telpon yang
kemarin ia catat.
“Iya..iya..
baik.. iya sekarang juga saya ke sana.. waalaikumsalam” saking semangatnya, gagang
telpon ia tutup dengan sangat cepat.
Arey
sudah sampai di sebuah gedung tinggi bertingkat. Dengan menanyakan receptionist terlebih dahulu akhirnya
Arey di ijinkan masuk untuk menemui orang yang ia telpon tadi.
Sore
telah berganti malam, ayah Arey yang sangat mencemaskan anaknya hanya bisa
terbaring di atas tikar dengan sambil terbatuk-batuk. Pemuda tujuh belas tahun
itu belum juga pulang. Diliriknya jarum pendek jam dinding sudah mengarah pada
angka delapan. Tak berapa lama kemudian bunyi decitan sandal yang berasal dari
langkah kaki Arey membangunkan ayahnya yang sedang tertidur lelap. Arey masuk
dengan membawa dua bungkusan keresek hitam di tangan kanannya. Tanpa ditanya
oleh ayahnya, ia langsung mengutarakan alasannya hari ini membeli makanan enak
untuk ayahnya itu. Tangis ayah seketika membuat Arey meneteskan air matanya
juga. Senyum bangga terlihat dari bibir ayahnya.
Gaji
pertama Arey sebagai seorang penulis lepas di sebuah koran ia persembahkan
untuk ayahnya dan sebagian lagi ia simpan di dompetnya. Sudah hampir sebulan
ini Arey pergi ke warnet hanya untuk mencoba-coba mengirim tulisannya ke
berbagai koran lokal. Kepintarannya dalam merangkai kata-kata dalam sebuah
tulisan memang sudah ada saat ia masih duduk di bangku SMP dan akhirnya ia pun
menuangkan bakatnya itu di media koran. Meskipun hanya ada satu koran yang
menerima tulisannya tetapi ia sangat senang karena telah dikontrak selama
sepuluh kali magang untuk tulisan inspiratifnya.
Hal yang paling membuatnya senang adalah kini ia bisa membelikan ayahnya
makanan enak dengan gajinya yang sebesar Rp400.000 untuk sekali menulis.
Rencananya besok ia akan membawa ayahnya untuk berobat ke rumah sakit.
Dibukanya dompet tipis yang ia simpan di saku celananya ternyata masih ada tiga
lembar seratus ribuan, satu lembar lima puluh ribuan dan dua lembar sepuluh
ribuan.
“Nanti
pulang dari jualan koran Arey jemput ayah ya, kita ke rumah sakit.. Ayah
siap-siap aja dulu ya..” Arey pamit pergi setelah menunaikan sholat subuh.
Pekerjaan barunya sebagai penulis lepas di koran tak terlalu membuat Arey
kewalahan karena ia tak harus setiap hari ke kantor tempat koran tersebut. Ia
hanya perlu mengirimkan tulisannya melalui email
dan tentu saja ini sangat menguntungkan waktunya.
Saat
petang tiba, Arey membereskan semua koran-koran yang masih tersisa. Dia
berpikir sejenak lalu berniat untuk ke pasar terlebih dahulu. Baju koko,
sarung, kemeja dan celana kain ia beli untuk ayahnya. Pasti ayah senang,
gumamnya.
Ketukan pintu yang berasal dari
tangan Arey tak menghasilkan respon apapun. Untung saja Arey membawa kunci
cadangan. Dengan menjinjing keresek ia pun terus mencari sang ayah sampai ke
semua sudut. Dilihatnya pintu kamar mandi yang terbuka dengan suara kucuran air
yang perlahan menghilang. Arey menemukan sosok lelaki yang kini terbujur kaku
menelungkup dengan pakaian dan sarung yang masih melekat dibadannya. Tangisnya semakin
menjadi-jadi sehingga semua tetangganya masuk ke dalam rumah dan mereka bergantian
mengucapkan “Innalilahi..wainnailaihirooji’un..” setelah mengetahui ayahnya tak
lagi bernyawa. Rupanya ayah terpeleset di kamar mandi saat akan berwudhu. Arey
yang kini menjadi seorang yatim hanya bisa pasrah meski hatinya seakan
teriris-iris mengetahui orang yang sangat ia sayangi harus pergi meninggalkannya
untuk selamanya.
Seminggu
kemudian. Arey masih bekerja sebagai penulis di sebuah koran lokal dan sesekali
ia menjadi loper koran disekitar rumahnya meski ia tahu untuk saat ini tujuan
utamanya bekerja adalah hanya untuk menghidupi dirinya sendiri bukan untuk
membahagiakan ayahnya. Dua bulan bekerja di sebuah koran dengan status magang
akhirnya Arey mendapat kesempatan untuk menjadi pekerja tetap di koran itu. Awalnya
menulis di koran hanya berniat untuk mencari uang saja tetapi sekarang itu
rupanya telah menjadi pekerjaannya yang sangat ia cintai. Ini semua tentunya
karena semangatnya yang ingin berubah menjadi lebih baik lagi dan doa ayahnya
juga. Di sela-sela rutinitasnya sebagai seorang penulis lepas ia masih teringat
akan nasihat sang ayah yang diiringi dengan senyum khasnya “Rey, kalau mau jadi orang sukses jangan
pernah takut untuk mencoba sesuatu”. Dan senyuman semu yang ada dibalik
wajah ayahnya itu ia jadikan sebagai penyemangat hari-harinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar