Alone, Isn’t Bad
Apa
yang pertama muncul dipikiran kalian kalau mendengar kata “sendiri” atau
“sendirian” ? it’s not fine, it’s sadden,
atau it’s lonely ???
Yups..
karena didunia ini manusia tak kan bisa hidup tanpa manusia lainnya, so pastilah kita semua tak kan mau hidup
sendiri. Tapi rupanya hal ini sangat berbeda dengan apa yang ada dalam kamus
hidupnya Rafa. Sejak usianya yang masih terhitung dini, ia sudah melewati
masa-masa yang penuh dengan kesendirian. Dewasa disebuah panti asuhan di
Bandung yang telah “memungutnya” semenjak berumur 5 bulan dan kini Rafa telah
tumbuh menjadi sosok remaja yang mandiri. Ia tak tahu kapan hari lahirnya atau
yang lebih trend dengan sebutan hari ultah, namun menurut Bu Minah (pemilik
panti asuhan) diperkirakan usianya sekarang sekitar 18 tahun-an , setahun lebih
tua dibandingkan dengan anak si pemilik panti asuhan itu. Namun meski sudah
terbiasa hidup dalam “kesepian” cowok yang punya tampang handsome ini nyatanya merasa galau ketika si pemilik panti asuhan
itu akan pindah beserta anak perempuannya. Ya...karena selama ditempat itu Rafa
hanya bisa berbaur dengan Rena (anak bu Minah) meski sesekali tak saling
menyapa.
Rafa
kecil dan Rena kecil memang tak saling mengenal tapi saat mereka masuk usia 13
tahun entah mengapa Rafa sepertinya merasakan ada ikatan persahabatan yang
sebelumnya tak pernah ia dapat pada diri orang lain. Tapi sekarang hanya
kegelisahan yang menerpa pikiran cowok itu. Takut akan kehilangan sosok wanita
yang selama ini telah menjadi temannya di panti tersebut. Rafa sangat takut
akan merasa sendirian dan kesepian kalau sudah tak ada Rena di panti itu.
Karena
merasa takut Rafa kecewa akhirnya Rena berniat untuk tidak pamit pada cowok itu. Gadis berkulit putih itu
memberikan sebuah bungkusan yang dititipkan pada Bi Noni, penjaga panti untuk
Rafa.
Mobil
yang membawa Rena pun melaju perlahan. Rafa hanya bisa melihat kepergiannya
dalam kesedihan mendalam, ia melambaikan tangan didalam kamarnya meskipun ia
tahu Rena kecewa tak melihat dirinya mengantar kepergiannya.
“Haruskah
aku nunggu dia untuk bisa ketemu lagi?” Rafa sedih.
Kini
panti itu terasa sangat sepi tanpa kehadiran Bu Minah dan Rena. Namun, sejak
panti itu diambil alih oleh Pak Hegi (seorang pengusaha), keadaan pun mulai
berubah. Kabarnya sih si pengusaha itu mulai bangkrut namun entahlah Rafa tak
sempat memikirkan soal hal tersebut. Anak-anak panti banyak yang tidak
diizinkan sekolah karena alasan yang tak jelas. Bahkan Rafa pun ikut kena
batunya. Sebagai satu-satunya anak panti yang paling besar, Ia diajak oleh si
pengusaha ke sebuah tempat, katanya Rafa akan diberi pekerjaan yang layak
sampai ke luar kota segala.
***
Di
Jakarta, Rafa diajak ke kediaman pak Hegi yang luas rumahnya lima kali lipat
dari panti asuhan di Bandung. Setelah sampai, Rafa pun mengikuti si pembantu
yang menunjukan kamarnya yang sangat besar dan bagus. Terlihat dua gadis yang
sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Gadis kecil bernama Dara,
diperkirakan usianya masih sembilan tahunan sedangkan Tery, yang satu lagi
sepertinya sepantaran dengannya.
Satu
per satu barang yang dibawa Rafa di dalam kopernya, ia keluarkan. Tak lupa
bungkusan dari Rena yang dititipkan untuknya sebelum pergi. Ia menyimpannya
disebuah gulungan keresek hitam lalu menyelipkannya disudut kamar yang tak bisa
terlihat oleh orang lain.
Keesokan
harinya ia sudah mendapat tugas untuk mengantar ke dua putri pak Hegi ke
sekolahnya masing-masing. Ia harus menunggu dan mengantar mereka sampai pulang
kembali ke rumah. Dilihat layar handphonenya,
oh.. dia lupa..
“Kenapa
aku nggak nyimpen nomor contac Rena
ya??? Duh.. padahal waktu Rena mau pamit, harusnya aku samperin dia.. dan minta
nomor nya” Rafa menggerutu tanda menyesal.
Kenangan
satu-satunya yang ada dihape nya
hanya foto berdua mereka saja. Kabarnya Rena pindah ke Malaysia karena ibunya,
bu Minah telah dipercaya untuk mengurus sebuah panti asuhan di negeri jiran
tersebut.
Satu
hal yang membuatnya kurang betah di sana yaitu perlakuan anak pertama pak Hegi
yang membuatnya harus selalu bersabar. Entah mengapa Tery tak suka padanya
sejak pertama kali melihatnya. Gadis itu selalu menganggap Rafa sebagai anak
kampungan karena hanya dibesarkan di sebuah panti asuhan.
Dua
bulan sudah Rafa bekerja pada pak Hegi. Rafa benar-benar merasa aneh dengan
perubahan sikap anak majikannya, Tery yang biasanya selalu galak padanya tapi
sekarang mereka seolah berteman tanpa sebuah kesepakatan. Dirumah mereka
menjadi tak canggung lagi untuk mengobrol. Bahkan Dara selalu memuji Rafa
secara terang-terangan meskipun saat itu wajah Tery berubah menjadi sedikit
cemburu.
***
Tiga
bulan kemudian Rafa mendapat telepon dari Bi Noni panti asuhan bahwa Bu Minah
dan Rena mengunjungi panti tersebut. Dengan meminta izin pada pak Hegi akhirnya
Rafa bisa ke Bandung. Sesampainya di tempat itu buru-buru Rafa mencari sosok
gadis yang selama ini di nantinya. Seharian itu Rafa benar-benar menggunakan
kesempatan untuk mengobrol dengan Rena. Ditelusuri jalan-jalan sekitar taman.
Setelah
mengantar Rena ke panti, Rafa pun pulang lagi ke rumah pak Hegi di jakarta
karena sudah mendapat telepon dari majikannya itu.
“Jangan
lupa nanti bales SMS aku ya... dadah”
teriak Rena saat Rafa dan mobil yang ditumpanginya mulai menghilang dari
pandangannya. Mereka saling melambaikan tangan.
***
Di
rumah pak Hegi ternyata keadaan rumah sepi sekali. Rupanya seisi rumah sedang
mempersiapkan acara ulang tahun Tery di sebuah cafe. Dan Rafa baru tau info tersebut setelah mendengarnya langsung
dari pak Irman, si penjaga rumah.
Sementara
itu di panti, Rena dengan hati yang tak karuan masih menunggu SMS Rafa yang tak kunjung hadir di hapenya.
“Kenapa
non Rena nggak ngomong yang sebenernya aja kalau selama ini tinggal di
Singapura dan telah menjalani pengobatan? Bukan tinggal di Malaysia”
“Nggak
Bi... saya takut Rafa jadi cemas kalau tahu tentang kesehatan saya saat ini” Rena
tak kuat menahan batuknya sedikit demi sedikit darah keluar dari mulutnya, ia
dengan segera mengelap sisa darah yang menetes keluar dari bibir mungilnya itu.
Rena pun cepat di larikan ke rumah
sakit. Saat SMSnya telah terbaca oleh
Rafa, kini giliran Handphone Rena
yang lowbat. Selama sehari di rawat di
rumah sakit itu ia tak menghubungi ataupun dihubungi Rafa hingga keesokan
harinya ia di sarankan oleh dokter untuk melanjutkan pengobatannya lagi di
Singapura. Rena lagi-lagi pergi tanpa pamit seperti beberapa bulan silam.
Sudah
seminggu ini Rafa tak menerima pesan dari Rena, begitupun dengan SMS terakhirnya ternyata belum juga ada
laporan terkirimnya. Rafa mulai cemas ia pun menelpon panti asuhan tapi tak ada
satu pun yang mengangkat.
***
Tak terasa satu tahun berlalu dan
selama itu juga Rafa sering mengunjungi panti tempatnya dulu dibesarkan yang
berada di kota kembang itu. Ini adalah kunjungannya yang hampir ke lima puluh
kalinya tapi ia masih tak mendapatkan informasi mengenai gadis yang sekarang
selalu mengganggu pikirannya.
“Bi...Bi
Noni nggak bercanda kan?” ucapnya tak percaya saat Bi Noni memberitahukan
keadaan sebenarnya Rena pada dirinya.
“Non
Rena sendiri yang minta Bibi merahasiakannya dari kamu tapi Bibi merasa kasihan
melihatmu tiap minggu datang kemari hanya untuk mendengar kabar non Rena”
“Maafin
aku Ren... aku salah banget selama setahun ini membenci kamu karena kamu nggak
ngabarin aku tapi ternyata kesehatanmu di sana sedang tak baik” Rafa tak mampu
menyembunyikan perasaannya kalau ia jadi mengingat wanita itu terus.
***
Tahun
ke dua tanpa kehadiran sosok perempuan itu membuat Rafa kurang semangat dalam
menjalani hidup. Ia meminta ijin Pak Hegi untuk kembali ke panti asuhan dan
merawat adik-adik di sana ia pun sangat berharap suatu saat Rena akan datang
kembali ke tempat tersebut. Awalnya ia tak di ijinkan karena diam-diam Tery memohon
pada Ayahnya untuk mencegah Rafa pindah namun setelah di nasehati akhirnya Tery
bisa melepas kepergian laki-laki itu. Memang, pernah ada pembicaraan antara
Tery dengan Ayahnya untuk menjodohkan anak gadisnya dengan Rafa tapi sepertinya
Tery menyadari bahwa sosok Rena lah yang paling berharga di hati lelaki itu.
Baru beberapa minggu berada di panti
tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan kedatangan seorang perempuan yang sangat
cantik. Ia terlihat sangat sehat dan fresh
tak seperti dua tahun yang lalu. Ya... Rena pun kembali dengan Bi Minah setelah
pengobatannya selesai dan akhirnya dinyatakan sembuh oleh dokter.
Tak
sia-sia selama ini Rafa menunggunya. Saat mereka berpapasan, dua insan itu tak
mampu menahan rindu yang sudah menggunung. Tak berpikir lama Rafa langsung
mengajak ngobrol Bi Minah secara privat.
“Kamu serius Fa?” Bi Minah dengan
nada tak percaya saat Rafa mengutarakan keinginannya untuk meminang putri si
mantan pemilik panti asuhan itu.
“Saya... saya sangat serius Bi..
eh.. Ibu..” mereka pun tertawa saat mendengar Rafa memanggil Ibu pada Bi Minah.
Rafa
mengenggam tangan Rena erat. Akhirnya penantian cintanya berakhir juga. Ia tak
mau lagi kehilangan wanita perkasa itu. Wanita yang selama dua tahun terakhir
ini bergelut dengan penyakit kankernya. Rafa ingin hidup bahagia bersama pujaan
hatinya. Ia tak mau lagi “sendiri”, kini kamus yang ada dalam hidupnya sedikit
berubah ia tambahkan beberapa kata.
“Sendiri itu tak
terlalu buruk tapi kalau aku harus kehilangan dirimu itu sangat buruk...Rena”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar