Coretan Neng Dea

Coretan Neng Dea

Selasa, 18 Juni 2013

Alone, Isn’t Bad (cerpen)

Alone, Isn’t Bad


Apa yang pertama muncul dipikiran kalian kalau mendengar kata “sendiri” atau “sendirian” ? it’s not fine, it’s sadden, atau it’s lonely ???
Yups.. karena didunia ini manusia tak kan bisa hidup tanpa manusia lainnya, so pastilah kita semua tak kan mau hidup sendiri. Tapi rupanya hal ini sangat berbeda dengan apa yang ada dalam kamus hidupnya Rafa. Sejak usianya yang masih terhitung dini, ia sudah melewati masa-masa yang penuh dengan kesendirian. Dewasa disebuah panti asuhan di Bandung yang telah “memungutnya” semenjak berumur 5 bulan dan kini Rafa telah tumbuh menjadi sosok remaja yang mandiri. Ia tak tahu kapan hari lahirnya atau yang lebih trend dengan sebutan hari ultah, namun menurut Bu Minah (pemilik panti asuhan) diperkirakan usianya sekarang sekitar 18 tahun-an , setahun lebih tua dibandingkan dengan anak si pemilik panti asuhan itu. Namun meski sudah terbiasa hidup dalam “kesepian” cowok yang punya tampang handsome ini nyatanya merasa galau ketika si pemilik panti asuhan itu akan pindah beserta anak perempuannya. Ya...karena selama ditempat itu Rafa hanya bisa berbaur dengan Rena (anak bu Minah) meski sesekali tak saling menyapa.
Rafa kecil dan Rena kecil memang tak saling mengenal tapi saat mereka masuk usia 13 tahun entah mengapa Rafa sepertinya merasakan ada ikatan persahabatan yang sebelumnya tak pernah ia dapat pada diri orang lain. Tapi sekarang hanya kegelisahan yang menerpa pikiran cowok itu. Takut akan kehilangan sosok wanita yang selama ini telah menjadi temannya di panti tersebut. Rafa sangat takut akan merasa sendirian dan kesepian kalau sudah tak ada Rena di panti itu.
Karena merasa takut Rafa kecewa akhirnya Rena berniat untuk tidak pamit pada cowok itu. Gadis berkulit putih itu memberikan sebuah bungkusan yang dititipkan pada Bi Noni, penjaga panti untuk Rafa.
Mobil yang membawa Rena pun melaju perlahan. Rafa hanya bisa melihat kepergiannya dalam kesedihan mendalam, ia melambaikan tangan didalam kamarnya meskipun ia tahu Rena kecewa tak melihat dirinya mengantar kepergiannya.
“Haruskah aku nunggu dia untuk bisa ketemu lagi?” Rafa sedih.
Kini panti itu terasa sangat sepi tanpa kehadiran Bu Minah dan Rena. Namun, sejak panti itu diambil alih oleh Pak Hegi (seorang pengusaha), keadaan pun mulai berubah. Kabarnya sih si pengusaha itu mulai bangkrut namun entahlah Rafa tak sempat memikirkan soal hal tersebut. Anak-anak panti banyak yang tidak diizinkan sekolah karena alasan yang tak jelas. Bahkan Rafa pun ikut kena batunya. Sebagai satu-satunya anak panti yang paling besar, Ia diajak oleh si pengusaha ke sebuah tempat, katanya Rafa akan diberi pekerjaan yang layak sampai ke luar kota segala.
***
Di Jakarta, Rafa diajak ke kediaman pak Hegi yang luas rumahnya lima kali lipat dari panti asuhan di Bandung. Setelah sampai, Rafa pun mengikuti si pembantu yang menunjukan kamarnya yang sangat besar dan bagus. Terlihat dua gadis yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Gadis kecil bernama Dara, diperkirakan usianya masih sembilan tahunan sedangkan Tery, yang satu lagi sepertinya sepantaran dengannya.
Satu per satu barang yang dibawa Rafa di dalam kopernya, ia keluarkan. Tak lupa bungkusan dari Rena yang dititipkan untuknya sebelum pergi. Ia menyimpannya disebuah gulungan keresek hitam lalu menyelipkannya disudut kamar yang tak bisa terlihat oleh orang lain.
Keesokan harinya ia sudah mendapat tugas untuk mengantar ke dua putri pak Hegi ke sekolahnya masing-masing. Ia harus menunggu dan mengantar mereka sampai pulang kembali ke rumah. Dilihat layar handphonenya, oh.. dia lupa..
“Kenapa aku nggak nyimpen nomor contac Rena ya??? Duh.. padahal waktu Rena mau pamit, harusnya aku samperin dia.. dan minta nomor nya” Rafa menggerutu tanda menyesal.
Kenangan satu-satunya yang ada dihape nya hanya foto berdua mereka saja. Kabarnya Rena pindah ke Malaysia karena ibunya, bu Minah telah dipercaya untuk mengurus sebuah panti asuhan di negeri jiran tersebut.
Satu hal yang membuatnya kurang betah di sana yaitu perlakuan anak pertama pak Hegi yang membuatnya harus selalu bersabar. Entah mengapa Tery tak suka padanya sejak pertama kali melihatnya. Gadis itu selalu menganggap Rafa sebagai anak kampungan karena hanya dibesarkan di sebuah panti asuhan.
Dua bulan sudah Rafa bekerja pada pak Hegi. Rafa benar-benar merasa aneh dengan perubahan sikap anak majikannya, Tery yang biasanya selalu galak padanya tapi sekarang mereka seolah berteman tanpa sebuah kesepakatan. Dirumah mereka menjadi tak canggung lagi untuk mengobrol. Bahkan Dara selalu memuji Rafa secara terang-terangan meskipun saat itu wajah Tery berubah menjadi sedikit cemburu.
***
Tiga bulan kemudian Rafa mendapat telepon dari Bi Noni panti asuhan bahwa Bu Minah dan Rena mengunjungi panti tersebut. Dengan meminta izin pada pak Hegi akhirnya Rafa bisa ke Bandung. Sesampainya di tempat itu buru-buru Rafa mencari sosok gadis yang selama ini di nantinya. Seharian itu Rafa benar-benar menggunakan kesempatan untuk mengobrol dengan Rena. Ditelusuri jalan-jalan sekitar taman.
Setelah mengantar Rena ke panti, Rafa pun pulang lagi ke rumah pak Hegi di jakarta karena sudah mendapat telepon dari majikannya itu.
“Jangan lupa nanti bales SMS aku ya... dadah” teriak Rena saat Rafa dan mobil yang ditumpanginya mulai menghilang dari pandangannya. Mereka saling melambaikan tangan.
***
Di rumah pak Hegi ternyata keadaan rumah sepi sekali. Rupanya seisi rumah sedang mempersiapkan acara ulang tahun Tery di sebuah cafe. Dan Rafa baru tau info tersebut setelah mendengarnya langsung dari pak Irman, si penjaga rumah.
Sementara itu di panti, Rena dengan hati yang tak karuan masih menunggu SMS Rafa yang tak kunjung hadir di hapenya.
“Kenapa non Rena nggak ngomong yang sebenernya aja kalau selama ini tinggal di Singapura dan telah menjalani pengobatan? Bukan tinggal di Malaysia”
“Nggak Bi... saya takut Rafa jadi cemas kalau tahu tentang kesehatan saya saat ini” Rena tak kuat menahan batuknya sedikit demi sedikit darah keluar dari mulutnya, ia dengan segera mengelap sisa darah yang menetes keluar dari bibir mungilnya itu.
            Rena pun cepat di larikan ke rumah sakit. Saat SMSnya telah terbaca oleh Rafa, kini giliran Handphone Rena yang lowbat. Selama sehari di rawat di rumah sakit itu ia tak menghubungi ataupun dihubungi Rafa hingga keesokan harinya ia di sarankan oleh dokter untuk melanjutkan pengobatannya lagi di Singapura. Rena lagi-lagi pergi tanpa pamit seperti beberapa bulan silam.
Sudah seminggu ini Rafa tak menerima pesan dari Rena, begitupun dengan SMS terakhirnya ternyata belum juga ada laporan terkirimnya. Rafa mulai cemas ia pun menelpon panti asuhan tapi tak ada satu pun yang mengangkat.
***
            Tak terasa satu tahun berlalu dan selama itu juga Rafa sering mengunjungi panti tempatnya dulu dibesarkan yang berada di kota kembang itu. Ini adalah kunjungannya yang hampir ke lima puluh kalinya tapi ia masih tak mendapatkan informasi mengenai gadis yang sekarang selalu mengganggu pikirannya.
“Bi...Bi Noni nggak bercanda kan?” ucapnya tak percaya saat Bi Noni memberitahukan keadaan sebenarnya Rena pada dirinya.
“Non Rena sendiri yang minta Bibi merahasiakannya dari kamu tapi Bibi merasa kasihan melihatmu tiap minggu datang kemari hanya untuk mendengar kabar non Rena”
“Maafin aku Ren... aku salah banget selama setahun ini membenci kamu karena kamu nggak ngabarin aku tapi ternyata kesehatanmu di sana sedang tak baik” Rafa tak mampu menyembunyikan perasaannya kalau ia jadi mengingat wanita itu terus.
***
Tahun ke dua tanpa kehadiran sosok perempuan itu membuat Rafa kurang semangat dalam menjalani hidup. Ia meminta ijin Pak Hegi untuk kembali ke panti asuhan dan merawat adik-adik di sana ia pun sangat berharap suatu saat Rena akan datang kembali ke tempat tersebut. Awalnya ia tak di ijinkan karena diam-diam Tery memohon pada Ayahnya untuk mencegah Rafa pindah namun setelah di nasehati akhirnya Tery bisa melepas kepergian laki-laki itu. Memang, pernah ada pembicaraan antara Tery dengan Ayahnya untuk menjodohkan anak gadisnya dengan Rafa tapi sepertinya Tery menyadari bahwa sosok Rena lah yang paling berharga di hati lelaki itu.
            Baru beberapa minggu berada di panti tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan kedatangan seorang perempuan yang sangat cantik. Ia terlihat sangat sehat dan fresh tak seperti dua tahun yang lalu. Ya... Rena pun kembali dengan Bi Minah setelah pengobatannya selesai dan akhirnya dinyatakan sembuh oleh dokter.
Tak sia-sia selama ini Rafa menunggunya. Saat mereka berpapasan, dua insan itu tak mampu menahan rindu yang sudah menggunung. Tak berpikir lama Rafa langsung mengajak ngobrol Bi Minah secara privat.
            “Kamu serius Fa?” Bi Minah dengan nada tak percaya saat Rafa mengutarakan keinginannya untuk meminang putri si mantan pemilik panti asuhan itu.
            “Saya... saya sangat serius Bi.. eh.. Ibu..” mereka pun tertawa saat mendengar Rafa memanggil Ibu pada Bi Minah.
Rafa mengenggam tangan Rena erat. Akhirnya penantian cintanya berakhir juga. Ia tak mau lagi kehilangan wanita perkasa itu. Wanita yang selama dua tahun terakhir ini bergelut dengan penyakit kankernya. Rafa ingin hidup bahagia bersama pujaan hatinya. Ia tak mau lagi “sendiri”, kini kamus yang ada dalam hidupnya sedikit berubah ia tambahkan beberapa kata.

“Sendiri itu tak terlalu buruk tapi kalau aku harus kehilangan dirimu itu sangat buruk...Rena”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar