Dermaga Penantianku
Saat
itu usiaku belum genap delapan belas tahun. Sebagai anak bungsu didalam
keluarga, Aku sangat dekat sekali dengan ayah karena semenjak ibuku meninggal
dunia setelah melahirkanku, sosok orangtua yang Aku kenal hanyalah beliau. Aku
mempunyai tiga kakak kandung, dua diantaranya sudah menikah dan berkeluarga dan
kini sudah tak lagi tinggal bersama kami sedangkan kakakku yang satu lagi jarak
usianya hanya berbeda tiga tahun dariku dan masih betah melajang hingga sampai
saat ini.
Hanya
berstatus sebagai lulusan sekolah menengah atas, Aku seringkali membantu Ayah
berjualan makanan dan minuman ringan ditempat Ayah bekerja. Ayah adalah seorang
pegawai kebersihan biasa di sebuah pelabuhan dengan gaji yang cukup lumayan.
Terkadang Ayah di ajak ikut berlayar untuk sekedar mengerjakan tugasnya yaitu membersihkan
kapal.
***
Seperti
biasanya hari ini Ayah menyuruhku untuk segera datang ke pelabuhan. Pukul lima
subuh Aku sudah stand by di tempat di
mana kami mencari sesuap nasi. Untungnya sepeda bututku masih setia mengantarku
kesana kemari. Evan, Kakakku bekerja di tempat yang berbeda. Hari ini Ayah
datang agak siang jadi Aku yang harus membereskan dan mengecek makanan apa saja
yang masih ada dan sudah habis di toko kami.
Tak
biasanya di hari senin ini dermaga dipadati oleh banyak orang berseragam putih
biru. Setelah mendengar percakapan dua orang ibu di sebelah ku ternyata hari
ini ada pelepasan sekolah pelayaran. Pantas saja banyak anak muda berseragam
putih biru itu mengantri untuk dapat masuk ke dalam kapal. Di kota kami memang
terkenal dengan sekolah pelayarannya karena letaknya yang di kelilingi oleh perairan.
Sebelum mereka naik ke dalam kapal, beberapa di antaranya mampir terlebih
dahulu ke toko kecil ku hanya sekedar untuk membeli minum ataupun cemilan
makanan.
Di
antara beberapa siswa itu ada satu orang yang kulihat terus memperhatikan gerak
gerikku. Karena merasa risih dibuatnya, akhirnya Aku menatapnya dengan tatapan
tajam dengan maksud agar laki-laki itu segera mengalihkan pandangannya akan
tetapi lelaki itu malah tersenyum. Manis sekali. Tak berapa lama kemudian
mereka pun bersiap-siap naik ke kapal.
“Mbak
ada salam tuh dari orang itu!” ucap seorang siswa dan telunjuknya menunjuk pada
orang yang memperhatikan diriku sedari tadi. Dari kejauhan sempat-sempatnya
orang tersebut melambaikan tangan padaku.
Bersamaan
dengan itu, Aku dikagetkan dengan suara Ayah yang muncul secara tiba-tiba dari
belakang. Ku lihat sosok lelaki lima puluh tahun an itu sedang sibuk
membereskan barang-barang yang kemudian dimasukannya ke dalam ransel besarnya.
Aku
baru ingat ini bulan ke enam dalam tahun ini dan itu waktunya Ayah ditugaskan
untuk ikut berlayar ke luar pulau. Setelah Ayah merasa semua barangnya telah
siap, beliau pun berpamitan padaku dan cepat-cepat masuk ke kapal yang juga
dinaiki oleh segerombolan siswa sekolah pelayaran tadi.
Aku
pun meraih handphone yang sengaja ku
simpan di bawah etalase toko lalu jempolku mulai mengetik dengan lincahnya di
atas tombol-tombol telpon genggamku itu. Semoga Kakakku segera membaca pesan
singkat yang baru saja kukirimkan padanya bahwa Ayah sudah berangkat.
Keesokan
harinya tak ada yang berubah meski di rumah kini hanya ada Aku beserta kakakku
saja. Dahulu sempat terfikir dibenakku untuk melanjutkan pendidikan ke bangku
kuliah tapi melihat keadaan yang tak memungkinkan akhirnya Aku harus
mengurungkan niatku tersebut. Melakukan rutinitas sebagai penjaga toko sendiri
adalah pekerjaan yang cukup menyenangkan karena tak perlu disuruh-suruh oleh
atasan, selain itu juga tempat kami berjualan pun Aku pikir cukup strategis.
Meski tak pernah menaiki kapal tapi entah mengapa Aku merasa senang melihat
pemandangan kapal yang berlayar di sekitar pelabuhan tempatku berjualan.
***
Enam
bulan telah berlalu dan Aku masih mengingat dengan jelas wajah orang yang kini datang
menghampiri tokoku. Ia duduk di kursi yang tak begitu luas yang diletakan di
depan kaca etalase toko kami.
“Umay”
Ucapnya dengan nada ramah sambil menyodorkan tangan kanannya padaku.
“A..aku..
Dara” jawabku dengan sedikit tersenyum.
Kini
lelaki berusia dua puluh tahun itu tak terlalu membuatku merasa terganggu lagi
dengan tatapan anehnya seperti kesan pertama dahulu saat ia mengunjungi tokoku
dengan teman-teman dari sekolah pelayarannya. Cukup lama kami mengobrol hingga
Aku tahu ternyata dia adalah salah satu alumni dari sekolah pelayaran itu dan kini
lebih sering ikut berlayar dan tak hanya ke luar pulau saja tetapi pernah juga
sampai ke luar negeri. Ia akan ikut berlayar setiap enam bulan sekali persis
seperti ayahku, bedanya ayahku ikut berlayar karena beliau ditugaskan untuk
menjaga dan membersihkan kapal tak sama seperti apa yang dilakukan Umay
tentunya.
Kami
mengobrol sangat akrab karena ternyata ia juga mengenal Ayahku sewaktu di
kapal. Sebelumnya ayahpun pernah menceritakan sosok pemuda baik hati yang
dikenalnya secara tak sengaja saat berlayar namun karena saat itu aku tak
tertarik dengan ceritanya aku pun tak bertanya lebih jauh tentang siapa pemuda
tersebut.
***
Sesampainya
di rumah, Aku bergegas menemui Ayah yang sedang asyik membaca koran di kursi
ruang tamu. Aku mulai membuka percakapan meski akhirnya sedikit demi sedikit
Aku mulai bertanya mengenai orang itu tetapi sepertinya Ayah tahu maksudku yang
sebenarnya dengan membaca gelagatku yang salting
(salah tingkah).
Tak
pernah ada waktu yang paling ku tunggu selain pagi hari karena saat itu pula
lah Aku bisa kembali ke pelabuhan bukan untuk melihat orang yang berlalu lalang
tetapi untuk berjumpa dengan seseorang.
***
Pagi
ini adalah sabtu yang sangat cerah. Lima bulan sudah Aku berteman baik dengan
dirinya. Banyak hal yang kami ceritakan. Mungkin karena banyak persamaan juga
pada diri masing-masing dan akhirnya itu yang menjadikan kami selalu connect saat mengobrol.
Akan
tetapi kali ini Aku harus ditemani oleh Kakakku untuk menjaga toko. Sempat
terbesit dalam pikiranku untuk menyuruh kakak laki-lakiku itu pulang karena
sebentar lagi akan ada yang mencariku. Tetapi tak ada alasan kuat untuk mengusirnya. Beberapa menit kemudian
pembeli mulai berdatangan. Seharusnya jam segini
ia sudah datang tapi hingga pukul dua siang batang hidungnya tak muncul-muncul.
“Dara,
Kakak pulang ya soalnya harus nganterin barang ke rumah teman” ucap Kakakku
dengan mata sedikit mengantuk.
“Oke..”
jawabku sumringah.
“Lho..
ditemenin cemberut, nah ini mau ditinggalin malah seneng banget kayaknya” agar
tak membuatnya curiga, Aku pun memasang wajah paling imut didepan kakak
kandungku itu.
Setelah
Kak Evan pergi, keadaan toko pun tak terlihat perbedaannya. Tak terlalu sepi
namun tak terlalu ramai juga. Aku pun menyibukkan diri dengan bermain games di telpon genggamku. Tak terasa
dua jam pun berlalu dan kini mataku mulai lelah karena menatap layar handphone terlalu lama. Baru saja kedua
mataku ingin menutup tiba-tiba terdengar seseorang yang suaranya mulai familiar di telingaku. Aku beranjak dan
keluar toko untuk menghampiri pembeli tersebut.
Ku
lirik jam yang melekat di tangan kiri lelaki itu. Sudah pukul empat lebih. Aku
bisa menebak pasti hari ini ia terlambat ke pelabuhan karena pekerjaan sampingannya
sebagai Tours guide memakan waktu
yang cukup lama.
“Oya
Ra, Aku punya sesuatu buatmu” Aku hanya mengira-ngira barang apa yang akan ia
berikan padaku dan tak berapa lama kemudian ia pun mengeluarkan sebuah
bungkusan kecil yang dikeluarkan dari saku jacketnya.
Setelah
ku buka plastik yang membungkus benda itu, ku temukan sebuah kalung berinisial
nama kami berdua terpajang didalam kotak kecil berwarna merah.
“Anggap
aja ini sebagai hadiah dari sahabatmu, Ra” ia pun memasangkannya tepat di leherku.
Namun entah mengapa Aku merasakan kesedihan yang mendalam saat ia mengutarakan
bahwa esok hari ia akan kembali berlayar.
***
Aku
tak pernah mengerti apa arti perasaan yang berkecimuk didalam dadaku saat ini.
Saat melihatnya pergi, dengan secepat kilat Aku merasa separuh hatiku ini telah
ikut dibawa pergi olehnya.
“Di dermaga ini pasti
kita akan bertemu kembali” itulah kata-kata terakhirnya yang
kudengar saat ia akan meninggalkan pelabuhan.
Kali
ini Ayahku tak ikut berlayar dengan rombongannya. Itu juga salah satu yang
membuat diriku mengkhawatirkan keadaannya. Apa yang bisa kuperbuat disini saat
menunggunya kembali, tak ada. Aku tak bisa menghubunginya dengan alat-alat
canggih zaman modern sekarang ini. Satu-satunya yang ku lakukan adalah
menantinya mengunjungiku kembali di dermaga ini, di pelabuhan ini.
Dermaga
ini mempunyai kenangan yang tak pernah bisa ku lupakan. Disini Aku bertemu
untuk pertama kalinya dengan dirinya dan disini pula Aku harus melihatnya pergi
untuk berlayar kembali.
***
Delapan
bulan Aku tak mendapatkan kabar tentangnya. Saat bertanya pada teman-temannya di
sini, ternyata ia memang belum pulang. Selesai menutup toko Aku selalu
menyempatkan diri ke dermaga untuk mencari dirinya. Mungkin saja ia akan ada
saat Aku berada di tempat itu. Tetapi harapanku itu ku kubur dalam-dalam saat
mengetahui dirinya belum muncul juga.
Di
saat-saat kegelisahan menerpa hatiku, tiba-tiba Ayah membawa kabar bahagia.
Katanya, kapal yang membawa Umay berlayar dini hari akan sampai di pelabuhan.
Ku putuskan sampai dini hari nanti Aku akan tetap menunggunya di sana. Di
dermaga, tempat dimana kami berjanji akan berjumpa lagi.
Pukul
00.30 terdengar sayup-sayup keramaian yang berasal dari luar. Aku segera keluar
dan mengunci toko. Dermaga pada jam seperti ini sangat dipadati banyak orang.
Aku tak bisa langsung menemukan sosok lelaki itu. Setelah berkeliling
mencarinya ternyata Aku tahu bahwa itu bukan kapal yang ditumpanginya. Kecewa
pun menjalar di seluruh perasaanku. Dengan sangat terpaksa Aku meninggalkan dermaga
itu dan kembali ke rumah.
***
Berbulan-bulan
telah ku lewati tanpa sosok lelaki yang ku akui telah menorehkan rasa itu di
lubuk hatiku.
“Cuaca
memang sedang kurang baik jadi tak heran kalau kapal yang dipakai berlayar oleh
Umay sedikit terlambat sampai ke pelabuhan” jelas Ayah padaku.
Ini
adalah tahun ke dua diriku menjalani aktifitas tanpa mengetahui keberadaannya.
Beberapa kali Ayah menenangkanku tetapi entah mengapa hati kecil ini akhirnya
selalu mencemaskan pemuda itu.
Disaat
keputusasaan menguasai pikiranku tiba-tiba saja Aku ingin sekali pergi ke
dermaga, tentunya masih berharap agar bisa bertemu lagi dengannya. berjam-jam
Aku diam di sana hingga Aku tak sadarkan diri saat ada sebuah kapal yang baru
saja sampai di pelabuhan. Pikiranku masih penuh oleh bayang-bayang lelaki itu.
Tiba-tiba
Aku merasakan ada dua tangan yang menutup mataku dari arah belakang. Dengan
sekuat tenaga Aku mencoba melepaskan tangannya yang besar itu. Tapi Aku tak
bisa berbuat apa-apa saat wajahku berada tepat sejajar dengan wajahnya. Aku
memukuli badannya dengan maksud menumpahkan kekesalan hatiku yang selama ini
telah menunggu kedatangan dirinya.
Dermaga
ini adalah saksi penantianku terhadapnya dan di dermaga ini pula akhirnya kami
saling mengetahui benih-benih cinta yang kini telah tumbuh di hati kami berdua.
Umay berjanji akan berada di sisiku mulai dari detik ini dan ia juga tak akan
mau membiarkanku menunggunya terlalu lama lagi untuk yang kedua kalinya.
***

wahh keren juga.. walau sudah 6 bulan berlalu.. namun masih ttp bisa mengingat wajahnya ;) siip dehh :)
BalasHapusWahidiyah Jakarta
hehe.. itulah keajaiban sebuah cerpen ^^ imajinasi tapi bs juga berasal dr pengalaman (orang) mungkin diluar sana ada yg bs lebih dr 6 bln '-'
BalasHapus