Kejutan
yang Mengejutkan
Wajah handsome, otak
encer, dompet tebal. Ya... itulah Aku. Bukannya narsis atau overdosis eh
overpede maksudnya, tapi inilah hidupku. Kenyataan bahwa Aku terlahir dari
sebuah keluarga yang kaya raya tak membuatku menjadi orang yang sombong.
Temanku juga sangat banyak. Di kampus aku adalah idola yang sering menjadi pusat
perhatian mahasiswa lainnya. Kisah percintaanku.. hmm tak perlu di ragukan
lagi, sampai usiaku yang ke dua puluh satu tahun ini Aku sudah memiliki hampir
lima belas mantan pacar. Bukannya Aku sering mempermainkan hati mereka namun
wanita-wanita itu yang mempermainkan perasaanku. Mereka mendekatiku hanya demi
materi semata. Ckckck... ya sudahlah sekarang statusku yang sedang single tak
membuat hidupku berbeda kok.
Hari ini Aku ke kampus
agak siang karena dosennya pun selalu datang terlambat. Aku sibuk mencari kunci
mobilku di dalam kamar namun tak ku temukan juga. Seorang bodyguardku masuk dan
memberikan sebuah benda.
“Kemarin malam waktu
Den Yuda pulang dari pesta ulang tahun teman Den Yuda, saya tak sengaja melihat
kunci ini disimpan begitu saja di luar teras jadi saya bawa masuk saja”
Panggilan Den atau Raden oleh semua pembantu dan bodyguard di rumah kepadaku
adalah sebutan untuk menandakan bahwa Aku terlahir sebagai anak dari orang tua
ningrat. Sifat pelupaku memang agak kronis tapi seluruh keluargaku sudah
memahaminya jadi mereka tak cepat marah bila Aku melakukan kesalahan kecil.
Setelah mendapatkan kunci itu dan berpamitan kepada ke dua orang tuaku, Aku pun
masuk ke dalam mobil baruku yang berwarna ungu.
Selain populer di
antara teman-teman, Aku juga disegani oleh para dosen karena mereka tahu Aku
adalah anak semata wayang seorang pejabat di kota kami. Namun itu semua tak
lantas membuat senyumku berkurang, Aku malah ingin lebih sering menyapa dan
bersua dengan mereka.
Sebagai seorang
mahasiswa semester lima jurusan sastra inggris dengan IPK yang lebih dari 3,6
Aku sering menjadi asdos (asisten dosen) bila perkuliahan tak dapat dihadiri
oleh si dosen. Aku selalu menjadi orang sibuk di kampus. Meski Aktif di semua
organisasi, Aku pun sering menyempatkan diri untuk membaca buku di
perpustakaan. Aku berhasil mengubah paradigma yang mengatakan bahwa orang yang
pergi ke perpus adalah seorang kutu buku namun kini anggapan itu bisa ku ubah.
Perpus adalah tempat nongkrong orang-orang cerdas dan gaul. Karena itu pula
kini banyak mahasiswa yang mengikuti apa yang Aku lakukan, tentunya semua yang
sifatnya positif.
Eits,
tapi tunggu dulu.. itu semua hanya ada dalam anganku saja.
***
Karena
moodku sedang tak baik, Aku putuskan untuk membereskan buku tulisku. Aku
harus menunda sejenak hobiku itu. Ku lihat di sekelilingku tampak begitu
berantakan. Ke empat adikku lah yang selalu membuat keadaan rumah seperti itu.
Mau tak mau Aku pun harus selalu membereskannya agar tak mendapat omelan dari
ibu dan Ayah saat mereka pulang.
Yuda
Saputra adalah nama lengkapku. Cita-cita ku adalah menjadi seorang penulis
namun Aku tahu impianku itu tak kan mungkin tercapai. Mungkin hanya kuli pasar
yang pantas menjadi pekerjaanku untuk saat ini. Sebagai anak sulung dalam
keluarga itu Aku sudah merasakan pahitnya hidup semenjak dari usia lima tahun,
usia yang seharusnya berada dalam perhatian lebih orangtua. Aku tak mengenal
bangku TK seperti orang-orang sepantaranku. Saat usia itu Aku sudah sering
diajak Ayah ke pasar untuk berjualan. Kini SMA yang letaknya berada di dekat
rumah adalah bukti bahwa Aku benar-benar serius belajar di bangku sekolah.
Dengan mengajukan beasiswa dari kelurahan Aku pun bisa mengenyam pendidikan
hingga kelas tiga sekarang. Meski hidup dalam kesederhanaan Aku tidak pernah
mengeluh asalkan seluruh anggota keluargaku bisa makan setiap hari meski hanya
dengan tahu dan tempe, Aku tak pernah
merasa kekurangan.
“Yuda...”
panggil ibuku yang baru saja datang dengan membawa banyak makanan.
“Wah..
dagangan di pasar di borong sama siapa Bu? Lihat ini ibu belanja banyak banget”
ujarku dengan sangat gembira.
“Itu
bukan milik kita! Tadi ada pembeli di pasar yang nitip, rumahnya di sekitaran
sini juga, nanti sore baru mau di ambil” jelas beliau. Ibu tersenyum saat
melihat ekspresi wajahku yang berubah drastis.
“Besok
tolong anterin kue-kue ini ke alamat ini ya” Ibu menyodorkan secarik kertas
yang berisikan alamat rumah seseorang. Aku hanya mengangguk sebari membereskan
kue-kue itu.
***
Di
sela-sela waktu santaiku, Aku selalu menyempatkan diri untuk melakukan hobi
yang sudah lama ku minati semenjak di bangku SMP. Bermula dari menulis buku
harian semenjak sekolah dasar membuatku jadi terbiasa dalam merangkai kata-kata
dalam sebuah tulisan. Dan tak heran saat masuk sekolah menengah atas, Aku
selalu mendapatkan nilai yang sangat baik dalam pelajaran bahasa indonesia
terutama dalam sastranya, baik itu puisi ataupun prosa. Maka dari itu berawal
dari bakat yang secara tak sengaja melekat di dalam diriku tersebut, sekarang
Aku selalu berangan-angan untuk menjadi seorang penulis seperti Raditya Dika ataupun
sang idolaku Andrea Hirata.
Aku
selalu mencari semua buku tulis bekasku semenjak SMP yang ku rasa masih bisa
terpakai untuk sekedar menggoreskan pena di atas kertas putih itu. Sudah banyak
buku-buku yang terpenuhi oleh coretan-coretanku. Pernah ada teman sekolahku
yang menyarankan padaku untuk mencoba mengirimkan tulisanku itu di media cetak
ataupun di media online (internet) tetapi rasa percaya diriku belum muncul
juga. Masih terselip rasa takut jika tulisanku tak disukai pembaca nantinya.
***
Saat akan pergi mengantarkan pesanan
kue ibuku dengan sepeda bututku tiba-tiba saja Aku mendapat kabar bahwa orang
yang akan ku hampiri kali ini adalah orang-orang yang bekerja di sebuah
perusahaan penerbitan buku. Sejenak muncullah rasa penasaran dibenakku. Bagaimana kalau Aku ke sana dengan membawa
setidaknya satu naskahku, kali aja bisa diterbitkan.
Setelah berpamitan Aku pun meluncur
menuju alamat rumah yang tertera di kertas yang sedang ku pegang. Satu kejutan
yang ku dapat saat penghuni rumah itu keluar adalah Aku mengenal orang itu. Wanita
yang usianya ditaksir sepantaran denganku membukakan pintu rumah tersebut.
“Udah datang ternyata, Ayo Yuda
masuk” ucapnya.
“Iya” jawabku singkat.
Tak lama kami mengobrol karena Aku
pun harus segera pulang untuk bersiap-siap sekolah siang hari ini. Tak banyak
pula yang kami bicarakan saat itu karena orang tuanya juga sedang tak ada di
rumah.
Di sekolah Aku kembali bertemu
dengannya. Teman sebangku ku itu selalu membuatku merasa nyaman. Namanya Yanfa.
Nama kami diawali oleh inisial huruf yang sama, itu juga yang membuat kami
makin dekat apabila ada tugas kelompok karena biasanya guru selalu membagi
muridnya sesuai abjad huruf yang ada di absen kelas. Satu yang ku kagumi
darinya adalah meski ia tahu keadaan ekonominya jauh lebih baik dariku tetapi
ia tak pernah memperlihatkan semua itu di hadapanku. Ia selalu menjadi teman
yang paling mengerti keadaanku.
“Aku baru tahu ternyata kantor
penerbitan itu punya orang tuamu ya?” Yanfa hanya mengangguk dengan memberikan
senyumannya yang paling manis.
“Gimana kabar novelmu?” tanya gadis
itu.
“Belum beres nih masih banyak yang
harus di perbaiki”
“Nanti kalau udah selesai boleh kan
kalau Aku membacanya?”
“Boleh sih tapi masih dalam bentuk
tulisan tangan, belum sempat Aku mengetiknya ke rental komputer” ucapku sedikit
malu.
Makin
hari Aku pun makin semangat untuk menulis apalagi jika sudah bersama-sama
dengan orang yang mempunyai hobi serupa denganku. Setiap pulang sekolah Aku
selalu meminta pendapat perempuan itu mengenai tulisanku yang ku rencanakan
akan selesai sebelum hari ulang tahunku. Namun bila memang nanti sudah selesai
apa yang bisa ku perbuat dengan naskahku tersebut, sepertinya tak ada. Bahkan
di tahun-tahun sebelumnya pun sebelum Aku mengenal Yanfa, Aku tak pernah
mendapatkan sesuatu yang spesial di hari kelahiranku tak seperti orang-orang
yang selalu merayakannya dengan segala macam pesta mewah. Satu yang Aku
harapkan hanyalah novelku ini sebagai kado terindah di ultahku yang ke delapan belas tahun nanti.
***
Empat bulan kemudian Aku berhasil
membereskan tulisanku dan satu minggu lagi hari ulang tahunku akan ku lewati.
Di dalam keluargaku, hari kelahiran memang tak pernah diperingati hanya saja
kami selalu membuat syukuran kecil-kecilan dengan membuat sedikit nasi tumpeng
yang kemudian kami bagikan pada tetangga.
Pagi-pagi buta sekali ada seseorang
yang mengetuk rumah kami. Segera ku buka dengan sedikit tergesa-gesa. Aku
sangat kaget saat mengetahui Yanfa sudah berdiri tegak di hadapanku ketika
pintu terbuka. Dengan alasan bahwa hari ini adalah weekend ia pun menyuruhku untuk segera membersihkan diri lalu kami
berdua pergi berolahraga di taman kota.
“Kemarin malam Aku tak sempat
selesaikan bacaan novelmu, jadi tak apa kan kalau tulisanmu itu masih harus ku
pinjam dulu?”
“Hmm.. iya nggak apa-apa, silahkan” di
dalam hati, ingin rasanya Aku mengutarakan bahwa naskah itu ingin sekali ku
terbitkan namun ternyata gadis yang sedang duduk di sampingku ini tak terlalu
peka meski orang tuanya adalah pemilik kantor penerbitan. Ya sudahlah tak
mungkin juga kalau Aku harus memaksanya menerbitkan novel jelekku itu. Yang
terpenting sekarang adalah aku memiliki teman terbaik yang benar-benar tulus
menjadi sahabatku.
***
Rutinitas sehari-hari yang ku
lakukan pun tak ada yang berbeda. Pergi ke pasar untuk membantu Ayah berjualan
di pagi hari dan berangkat ke sekolah di siang hari. Dan seperti biasanya juga
bila ada waktu rehat sejenak selalu ku gunakan untuk mengasah kemampuanku dalam
menulis. Akan tetapi sudah lima hari ini Aku tak bisa sharing dengan Yanfa. Di sekolah pun kami hanya bertemu saat ada
pelajaran saja jadi tak ada waktu lebih untuk mengobrol.
Kekhawatiranku akan sikapnya yang
berbeda sekarang ini membuat perasaan di dalam dadaku menjadi tak karuan.
Naskahku yang memang masih ada padanya pun tak mampu ku pinta untuk saat ini.
Tadinya Aku ingin mengirimkannya ke penerbit indie tetapi karena masih ada di rumahnya Aku pun harus
mengurungkan niat tersebut.
***
Sabtu ini Aku bangun agak siang
karena pekerjaanku semalam membantu ibu membuat kue berdampak pada ke dua
mataku yang ingin selalu menutup dan menyandarkan kepala di atas bantal. Ku
lihat jam dinding yang terpajang di tembok rumah kami yang agak kotor. Sudah
pukul sembilan ternyata. Aku harus meminta maaf pada Ayah nanti karena tak
membantunya di pasar hari ini. Setelah keluar dari kamar mandi untuk
membersihkan diri, Aku pun berniat untuk pergi ke rumah seorang perempuan yang
semenjak malam selalu mengganggu pikiranku. Aku buka toples kue yang berisi
penuh oleh kue kering yang telah ku buat kemarin. Aku mengelap toples itu dan
membungkusnya dengan keresek hitam yang tak ada estetikanya sama sekali. Tapi
tak apa lah toh yang akan di makan itu kan isinya bukan luarnya.
Ku langkahkan kaki ke luar rumah
dengan menjinjing sebuah keresek. Banyak yang menatapku dengan aneh pada saat
itu tapi Aku tak memperdulikannya. Saat tiba di depan rumahnya Aku pun mulai
mengetuk pintu tetapi yang membukakan ternyata adalah orang tuanya, ia tak ada
di sana. Dengan kekecewaan yang menggunung di benakku akhirnya ku putuskan
untuk kembali ke rumah lagi tetapi Aku kesulitan saat akan membuka pintu
rumahku sendiri. Mungkinkah seisi rumah sedang berpergian dan parahnya Aku tak
membawa kunci cadangan kali ini.
Berjam-jam Aku diam di luar depan
rumahku. Tak ada yang ingin ku lakukan pada saat itu. Aku hanya ingin
beristirahat di dalam rumah namun keluargaku belum pulang juga. Ku intip jam
dinding dari jendela luar rumah. Sudah pukul tiga sore tetapi Aku masih lumutan di kursi depan rumah. Mataku pun
tak dapat di ajak kompromi. Bisa-bisanya indera penglihatanku kini meminta
untuk di istirahatkan. Aku pun tertidur pulas dengan badan sedikit membungkuk.
Tak berapa lama kemudian Aku
mendengar sayup-sayup suara langkah kaki yang mengarah menuju diriku yang
sedang terduduk di kursi. Saat mencoba membuka mata dan terbangun dari rasa
kantukku yang sangat luar biasa, di sana lah Aku melihat pemandangan yang
menggembirakan hatiku. Aku terkejut saat seorang perempuan cantik berjalan
menghampiriku. Ia membawa sebuah benda yang dibungkus oleh kertas kado berwarna
biru.
“Yan..Yanfa..” Ucapku tak percaya
saat ku lirik dibelakangnya ternyata hadir juga semua teman-teman sekelasku di
sana. Mereka semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku dengan nada fals. Aku sangat terharu, terlebih
karena Yanfa kini mau datang menemui diriku. Ia pun menyodorkan kado itu
padaku. Serentak semua teman-teman berkata “Buka..buka..” dan Aku pun menyobek
bungkusan kertas itu dengan perlahan.
Secara
tak sadar Aku refleks memeluk gadis itu karena tak kuasa menahan rasa senangku.
Saat ia memanggil namaku dengan terbata-bata, Aku segera melepaskan pelukanku.
“Maaf..” ucapku malu-malu.
Sungguh Aku tak percaya kini Aku
bisa menggenggam sebuah buku yang di cover
depannya tertera nama lengkapku dengan sangat jelas. Inikah yang di
lakukannya beberapa waktu lalu saat Aku rasa ia sedang menjauhiku?. Ya.. pasti.
Terima
kasih Yanfa.. Akhirnya Aku bisa merasakan betapa bahagianya saat mengetahui ada
orang lain yang mengingat hari ulang tahunku. Kejutan ini benar-benar membuatku
sangat terkejut dan tak mampu ku ungkapkan dengan kata-kata. Meskipun Aku
pandai merangkai kata dalam tulisanku tetapi entah mengapa kali ini Aku hanya
bisa tersenyum melihat senyuman yang juga terpancar dari wajahmu.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar