Coretan Neng Dea

Coretan Neng Dea

Selasa, 18 Juni 2013

Kejutan yang Mengejutkan (cerpen)

Kejutan yang Mengejutkan


Wajah handsome, otak encer, dompet tebal. Ya... itulah Aku. Bukannya narsis atau overdosis eh overpede maksudnya, tapi inilah hidupku. Kenyataan bahwa Aku terlahir dari sebuah keluarga yang kaya raya tak membuatku menjadi orang yang sombong. Temanku juga sangat banyak. Di kampus aku adalah idola yang sering menjadi pusat perhatian mahasiswa lainnya. Kisah percintaanku.. hmm tak perlu di ragukan lagi, sampai usiaku yang ke dua puluh satu tahun ini Aku sudah memiliki hampir lima belas mantan pacar. Bukannya Aku sering mempermainkan hati mereka namun wanita-wanita itu yang mempermainkan perasaanku. Mereka mendekatiku hanya demi materi semata. Ckckck... ya sudahlah sekarang statusku yang sedang single tak membuat hidupku berbeda kok.
Hari ini Aku ke kampus agak siang karena dosennya pun selalu datang terlambat. Aku sibuk mencari kunci mobilku di dalam kamar namun tak ku temukan juga. Seorang bodyguardku masuk dan memberikan sebuah benda.
“Kemarin malam waktu Den Yuda pulang dari pesta ulang tahun teman Den Yuda, saya tak sengaja melihat kunci ini disimpan begitu saja di luar teras jadi saya bawa masuk saja” Panggilan Den atau Raden oleh semua pembantu dan bodyguard di rumah kepadaku adalah sebutan untuk menandakan bahwa Aku terlahir sebagai anak dari orang tua ningrat. Sifat pelupaku memang agak kronis tapi seluruh keluargaku sudah memahaminya jadi mereka tak cepat marah bila Aku melakukan kesalahan kecil. Setelah mendapatkan kunci itu dan berpamitan kepada ke dua orang tuaku, Aku pun masuk ke dalam mobil baruku yang berwarna ungu.
Selain populer di antara teman-teman, Aku juga disegani oleh para dosen karena mereka tahu Aku adalah anak semata wayang seorang pejabat di kota kami. Namun itu semua tak lantas membuat senyumku berkurang, Aku malah ingin lebih sering menyapa dan bersua dengan mereka.
Sebagai seorang mahasiswa semester lima jurusan sastra inggris dengan IPK yang lebih dari 3,6 Aku sering menjadi asdos (asisten dosen) bila perkuliahan tak dapat dihadiri oleh si dosen. Aku selalu menjadi orang sibuk di kampus. Meski Aktif di semua organisasi, Aku pun sering menyempatkan diri untuk membaca buku di perpustakaan. Aku berhasil mengubah paradigma yang mengatakan bahwa orang yang pergi ke perpus adalah seorang kutu buku namun kini anggapan itu bisa ku ubah. Perpus adalah tempat nongkrong orang-orang cerdas dan gaul. Karena itu pula kini banyak mahasiswa yang mengikuti apa yang Aku lakukan, tentunya semua yang sifatnya positif.
Eits, tapi tunggu dulu.. itu semua hanya ada dalam anganku saja.
***
Karena moodku sedang tak baik, Aku putuskan untuk membereskan buku tulisku. Aku harus menunda sejenak hobiku itu. Ku lihat di sekelilingku tampak begitu berantakan. Ke empat adikku lah yang selalu membuat keadaan rumah seperti itu. Mau tak mau Aku pun harus selalu membereskannya agar tak mendapat omelan dari ibu dan Ayah saat mereka pulang.
Yuda Saputra adalah nama lengkapku. Cita-cita ku adalah menjadi seorang penulis namun Aku tahu impianku itu tak kan mungkin tercapai. Mungkin hanya kuli pasar yang pantas menjadi pekerjaanku untuk saat ini. Sebagai anak sulung dalam keluarga itu Aku sudah merasakan pahitnya hidup semenjak dari usia lima tahun, usia yang seharusnya berada dalam perhatian lebih orangtua. Aku tak mengenal bangku TK seperti orang-orang sepantaranku. Saat usia itu Aku sudah sering diajak Ayah ke pasar untuk berjualan. Kini SMA yang letaknya berada di dekat rumah adalah bukti bahwa Aku benar-benar serius belajar di bangku sekolah. Dengan mengajukan beasiswa dari kelurahan Aku pun bisa mengenyam pendidikan hingga kelas tiga sekarang. Meski hidup dalam kesederhanaan Aku tidak pernah mengeluh asalkan seluruh anggota keluargaku bisa makan setiap hari meski hanya dengan tahu dan tempe, Aku tak  pernah merasa kekurangan.
“Yuda...” panggil ibuku yang baru saja datang dengan membawa banyak makanan.
“Wah.. dagangan di pasar di borong sama siapa Bu? Lihat ini ibu belanja banyak banget” ujarku dengan sangat gembira.
“Itu bukan milik kita! Tadi ada pembeli di pasar yang nitip, rumahnya di sekitaran sini juga, nanti sore baru mau di ambil” jelas beliau. Ibu tersenyum saat melihat ekspresi wajahku yang berubah drastis.
“Besok tolong anterin kue-kue ini ke alamat ini ya” Ibu menyodorkan secarik kertas yang berisikan alamat rumah seseorang. Aku hanya mengangguk sebari membereskan kue-kue itu.
***
Di sela-sela waktu santaiku, Aku selalu menyempatkan diri untuk melakukan hobi yang sudah lama ku minati semenjak di bangku SMP. Bermula dari menulis buku harian semenjak sekolah dasar membuatku jadi terbiasa dalam merangkai kata-kata dalam sebuah tulisan. Dan tak heran saat masuk sekolah menengah atas, Aku selalu mendapatkan nilai yang sangat baik dalam pelajaran bahasa indonesia terutama dalam sastranya, baik itu puisi ataupun prosa. Maka dari itu berawal dari bakat yang secara tak sengaja melekat di dalam diriku tersebut, sekarang Aku selalu berangan-angan untuk menjadi seorang penulis seperti Raditya Dika ataupun sang idolaku Andrea Hirata.
Aku selalu mencari semua buku tulis bekasku semenjak SMP yang ku rasa masih bisa terpakai untuk sekedar menggoreskan pena di atas kertas putih itu. Sudah banyak buku-buku yang terpenuhi oleh coretan-coretanku. Pernah ada teman sekolahku yang menyarankan padaku untuk mencoba mengirimkan tulisanku itu di media cetak ataupun di media online (internet) tetapi rasa percaya diriku belum muncul juga. Masih terselip rasa takut jika tulisanku tak disukai pembaca nantinya.
***
            Saat akan pergi mengantarkan pesanan kue ibuku dengan sepeda bututku tiba-tiba saja Aku mendapat kabar bahwa orang yang akan ku hampiri kali ini adalah orang-orang yang bekerja di sebuah perusahaan penerbitan buku. Sejenak muncullah rasa penasaran dibenakku. Bagaimana kalau Aku ke sana dengan membawa setidaknya satu naskahku, kali aja bisa diterbitkan.
            Setelah berpamitan Aku pun meluncur menuju alamat rumah yang tertera di kertas yang sedang ku pegang. Satu kejutan yang ku dapat saat penghuni rumah itu keluar adalah Aku mengenal orang itu. Wanita yang usianya ditaksir sepantaran denganku membukakan pintu rumah tersebut.
            “Udah datang ternyata, Ayo Yuda masuk” ucapnya.
            “Iya” jawabku singkat.
            Tak lama kami mengobrol karena Aku pun harus segera pulang untuk bersiap-siap sekolah siang hari ini. Tak banyak pula yang kami bicarakan saat itu karena orang tuanya juga sedang tak ada di rumah.
            Di sekolah Aku kembali bertemu dengannya. Teman sebangku ku itu selalu membuatku merasa nyaman. Namanya Yanfa. Nama kami diawali oleh inisial huruf yang sama, itu juga yang membuat kami makin dekat apabila ada tugas kelompok karena biasanya guru selalu membagi muridnya sesuai abjad huruf yang ada di absen kelas. Satu yang ku kagumi darinya adalah meski ia tahu keadaan ekonominya jauh lebih baik dariku tetapi ia tak pernah memperlihatkan semua itu di hadapanku. Ia selalu menjadi teman yang paling mengerti keadaanku.
            “Aku baru tahu ternyata kantor penerbitan itu punya orang tuamu ya?” Yanfa hanya mengangguk dengan memberikan senyumannya yang paling manis.
            “Gimana kabar novelmu?” tanya gadis itu.
            “Belum beres nih masih banyak yang harus di perbaiki”
            “Nanti kalau udah selesai boleh kan kalau Aku membacanya?”
            “Boleh sih tapi masih dalam bentuk tulisan tangan, belum sempat Aku mengetiknya ke rental komputer” ucapku sedikit malu.
Makin hari Aku pun makin semangat untuk menulis apalagi jika sudah bersama-sama dengan orang yang mempunyai hobi serupa denganku. Setiap pulang sekolah Aku selalu meminta pendapat perempuan itu mengenai tulisanku yang ku rencanakan akan selesai sebelum hari ulang tahunku. Namun bila memang nanti sudah selesai apa yang bisa ku perbuat dengan naskahku tersebut, sepertinya tak ada. Bahkan di tahun-tahun sebelumnya pun sebelum Aku mengenal Yanfa, Aku tak pernah mendapatkan sesuatu yang spesial di hari kelahiranku tak seperti orang-orang yang selalu merayakannya dengan segala macam pesta mewah. Satu yang Aku harapkan hanyalah novelku ini sebagai kado terindah di ultahku yang ke delapan belas tahun nanti.
***
            Empat bulan kemudian Aku berhasil membereskan tulisanku dan satu minggu lagi hari ulang tahunku akan ku lewati. Di dalam keluargaku, hari kelahiran memang tak pernah diperingati hanya saja kami selalu membuat syukuran kecil-kecilan dengan membuat sedikit nasi tumpeng yang kemudian kami bagikan pada tetangga.
            Pagi-pagi buta sekali ada seseorang yang mengetuk rumah kami. Segera ku buka dengan sedikit tergesa-gesa. Aku sangat kaget saat mengetahui Yanfa sudah berdiri tegak di hadapanku ketika pintu terbuka. Dengan alasan bahwa hari ini adalah weekend ia pun menyuruhku untuk segera membersihkan diri lalu kami berdua pergi berolahraga di taman kota.
            “Kemarin malam Aku tak sempat selesaikan bacaan novelmu, jadi tak apa kan kalau tulisanmu itu masih harus ku pinjam dulu?”
            “Hmm.. iya nggak apa-apa, silahkan” di dalam hati, ingin rasanya Aku mengutarakan bahwa naskah itu ingin sekali ku terbitkan namun ternyata gadis yang sedang duduk di sampingku ini tak terlalu peka meski orang tuanya adalah pemilik kantor penerbitan. Ya sudahlah tak mungkin juga kalau Aku harus memaksanya menerbitkan novel jelekku itu. Yang terpenting sekarang adalah aku memiliki teman terbaik yang benar-benar tulus menjadi sahabatku.
***
            Rutinitas sehari-hari yang ku lakukan pun tak ada yang berbeda. Pergi ke pasar untuk membantu Ayah berjualan di pagi hari dan berangkat ke sekolah di siang hari. Dan seperti biasanya juga bila ada waktu rehat sejenak selalu ku gunakan untuk mengasah kemampuanku dalam menulis. Akan tetapi sudah lima hari ini Aku tak bisa sharing dengan Yanfa. Di sekolah pun kami hanya bertemu saat ada pelajaran saja jadi tak ada waktu lebih untuk mengobrol.
            Kekhawatiranku akan sikapnya yang berbeda sekarang ini membuat perasaan di dalam dadaku menjadi tak karuan. Naskahku yang memang masih ada padanya pun tak mampu ku pinta untuk saat ini. Tadinya Aku ingin mengirimkannya ke penerbit indie tetapi karena masih ada di rumahnya Aku pun harus mengurungkan niat tersebut.
***
            Sabtu ini Aku bangun agak siang karena pekerjaanku semalam membantu ibu membuat kue berdampak pada ke dua mataku yang ingin selalu menutup dan menyandarkan kepala di atas bantal. Ku lihat jam dinding yang terpajang di tembok rumah kami yang agak kotor. Sudah pukul sembilan ternyata. Aku harus meminta maaf pada Ayah nanti karena tak membantunya di pasar hari ini. Setelah keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri, Aku pun berniat untuk pergi ke rumah seorang perempuan yang semenjak malam selalu mengganggu pikiranku. Aku buka toples kue yang berisi penuh oleh kue kering yang telah ku buat kemarin. Aku mengelap toples itu dan membungkusnya dengan keresek hitam yang tak ada estetikanya sama sekali. Tapi tak apa lah toh yang akan di makan itu kan isinya bukan luarnya.
            Ku langkahkan kaki ke luar rumah dengan menjinjing sebuah keresek. Banyak yang menatapku dengan aneh pada saat itu tapi Aku tak memperdulikannya. Saat tiba di depan rumahnya Aku pun mulai mengetuk pintu tetapi yang membukakan ternyata adalah orang tuanya, ia tak ada di sana. Dengan kekecewaan yang menggunung di benakku akhirnya ku putuskan untuk kembali ke rumah lagi tetapi Aku kesulitan saat akan membuka pintu rumahku sendiri. Mungkinkah seisi rumah sedang berpergian dan parahnya Aku tak membawa kunci cadangan kali ini.
            Berjam-jam Aku diam di luar depan rumahku. Tak ada yang ingin ku lakukan pada saat itu. Aku hanya ingin beristirahat di dalam rumah namun keluargaku belum pulang juga. Ku intip jam dinding dari jendela luar rumah. Sudah pukul tiga sore tetapi Aku masih lumutan di kursi depan rumah. Mataku pun tak dapat di ajak kompromi. Bisa-bisanya indera penglihatanku kini meminta untuk di istirahatkan. Aku pun tertidur pulas dengan badan sedikit membungkuk.
            Tak berapa lama kemudian Aku mendengar sayup-sayup suara langkah kaki yang mengarah menuju diriku yang sedang terduduk di kursi. Saat mencoba membuka mata dan terbangun dari rasa kantukku yang sangat luar biasa, di sana lah Aku melihat pemandangan yang menggembirakan hatiku. Aku terkejut saat seorang perempuan cantik berjalan menghampiriku. Ia membawa sebuah benda yang dibungkus oleh kertas kado berwarna biru.
            “Yan..Yanfa..” Ucapku tak percaya saat ku lirik dibelakangnya ternyata hadir juga semua teman-teman sekelasku di sana. Mereka semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku dengan nada fals. Aku sangat terharu, terlebih karena Yanfa kini mau datang menemui diriku. Ia pun menyodorkan kado itu padaku. Serentak semua teman-teman berkata “Buka..buka..” dan Aku pun menyobek bungkusan kertas itu dengan perlahan.
Secara tak sadar Aku refleks memeluk gadis itu karena tak kuasa menahan rasa senangku. Saat ia memanggil namaku dengan terbata-bata, Aku segera melepaskan pelukanku.
            “Maaf..” ucapku malu-malu.
            Sungguh Aku tak percaya kini Aku bisa menggenggam sebuah buku yang di cover depannya tertera nama lengkapku dengan sangat jelas. Inikah yang di lakukannya beberapa waktu lalu saat Aku rasa ia sedang menjauhiku?. Ya.. pasti.
            Terima kasih Yanfa.. Akhirnya Aku bisa merasakan betapa bahagianya saat mengetahui ada orang lain yang mengingat hari ulang tahunku. Kejutan ini benar-benar membuatku sangat terkejut dan tak mampu ku ungkapkan dengan kata-kata. Meskipun Aku pandai merangkai kata dalam tulisanku tetapi entah mengapa kali ini Aku hanya bisa tersenyum melihat senyuman yang juga terpancar dari wajahmu.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar