“Apaan
mau jadi penulis novel? Memangnya nggak ada kerjaan yang gajinya bisa lebih
dari itu ya?” ucap Ayah saat mendengar percakapan antara ibu dan anak yang
sedang berada di ruang tamu.
“Maksudnya
bukan pekerjaan tetap Ayah... itu kan hanya sekedar hobi aja yah... kalau emang
berhasil sih..”
“Mau
di lanjutkan? Inget.. Tiga tahun lagi kamu bakal menyandang gelar sebagai sarjana
hukum bukan sebagai sarjana novel. Jadi fokus belajar!!” Ayah pun pergi karena
tak mau lama-lama berdebat dengan anaknya itu. Bunda hanya bisa menenangkan
anak semata wayangnya itu dengan membelai rambutnya sambil terus mengucapkan sudah..sabar..sabar..nak,
Mutiara Putri atau yang lebih sering
disebut Mutie adalah anak satu-satunya dalam keluarga itu. Sebagai anak
tunggal, Ayah merasa khawatir pada kehidupannya kelak oleh sebab itu ayah
selalu mengatur hidupnya dengan alasan agar tak salah jalan dan sebagainya.
Berbeda dengan sifat Ayahnya, Bunda malah mendukung penuh niat baik gadis itu
untuk menjadi seorang penulis.
“Asal
kan pendidikan mu jangan sampai terabaikan ya..” nasihat Bunda selalu terngiang
di telinganya. Mutie mengangguk dan tersenyum tanda setuju.
Sebagai seorang mahasiswi semester
dua, ia masih sibuk mencari jati dirinya. Masuk universitas usulan sang Ayah
membuatnya menjadi kalut. Bayangkan saja, ia senang dengan hal-hal yang berhubungan
dengan puisi dan prosa namun Ayah malah dengan sengaja mendaftarkan dirinya ke
fakultas hukum yang sama sekali tak menarik minatnya sedikitpun. Namun apa
boleh buat selama setahun ini ia mendalami semua pasal-pasal juga undang-undang
meskipun sempat terbesit di dalam benaknya untuk pindah jurusan.
***
Suatu ketika ada informasi beasiswa
di kampusnya.
“Hah?
Nggak salah nih? Yang menang beasiswa bisa pindah jurusan sesuai yang di
inginkan? Dan gratis biaya selama empat semester?”
“Pengumuman
beasiswa yang aneh.. Masih kepengen pindah mut?” Mutie tersenyum malu seolah
menyembunyikan sesuatu di hatinya saat Dhea, teman kampusnya bertanya.
“Yang
penting Ayah jangan sampai tahu kalau aku pindah toh aku kan masih kuliah di
universitas ini” ujarnya.
“Bukannya
selama setahun kita kuliah di sini kamu belum pernah buat karya ilmiah?”
“Iya
juga sih selama ini cuma pasal-pasal aja yang nempel di pikiran kita. Mata
kuliah bahasa indonesia aja jarang tuh nyuruh bikin makalah. Hufh... harus
mulai ke perpus nih” Mutie berjalan melewati beberapa koridor dengan penuh
semangat.
***
“Pokoknya
nanti kalau Mutie masuk jurusan itu, Mutie janji nggak akan ngecewain bunda
deh.. Mutie akan belajar dengan serius dan bunda nggak usah biayain Mutie.. kalau
beasiswanya udah abis, Mutie nanti mau cari uang sendiri dari hasil penjualan
novel pertama Mutie”
“Memangnya
Novelmu udah terbit?”
“Belum
sih.. masih dalam proses penyelesaian... minta doanya ya Bun..”
Untungnya saat mengobrol, tak
terlihat Ayah berada di dalam rumah jadi mereka lebih leluasa membicarakan hal
tersebut.
***
Betapa
terpukulnya hati Mutie, ia tak mampu mengungkapkan kekesalan yang bergejolak
didalam dadanya. Cita-citanya yang ia pupuk semenjak masih duduk dibangku SMA
kini telah pupus tak dapat lagi ia raih. Mendapat beasiswa dengan nilai karya
ilmiahnya yang tinggi, tak lagi membuat semangatnya muncul saat ia mendengar kabar
bahwa ia di terima di jurusan sastra indonesia.
Kini angan-angan itu harus ia tunda dahulu.
Memang, dokter tak menyebutkan kapan kakinya bisa pulih kembali tapi sepertinya
itu akan menjadi sedikit penghalang untuk dirinya bisa beraktifitas seperti
biasa.
Ini
adalah hari terakhir dirinya di rumah sakit setelah satu minggu ia di rawat
karena kecelakaan motor yang mengakibatkan kakinya tak lagi berfungsi dengan
baik. Kini hanya kursi roda yang setia menemaninya kemana-mana meski untuk
sekarang ini ia lebih senang menyendiri di dalam kamarnya dengan laptop sebagai
penghiburnya. Keadaannya yang kini tak memungkinkan untuk menimba ilmu di
bangku kuliah justru ia manfaatkan waktu-waktu tersebut untuk meneruskan
hobinya untuk menulis.
***
“Ayah
bilang juga apa? Nggak usah lah sok ngirim-ngirim tulisanmu ke media cetak segala.
Sekarang lihat kamu begini gara-gara hobimu itu kan?” seperti biasa, setelah
mengomel, Ayah selalu pergi tanpa pamit.
Ya... beberapa waktu yang lalu ketika
Mutie menjalankan sepeda motornya dalam perjalanan menuju sebuah kantor
penerbit dan percetakan buku ia terserempet oleh motor lain sehingga terjadilah
tabrakan. Tapi ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Itu hanya musibah. Musibah
yang tak pernah ia tahu.
Bunda menghampirinya dengan senyum
yang selalu melegakan hati Mutie.
“Jangan
patah semangat ya sayang.. lakukan apa yang ingin kamu lakukan.. jangan
sampai.. kamu menyesal nantinya”
“Maksud
Bunda?” Dari sorot mata perempuan empat puluh tahun an itu, Mutie menangkap ada
sesuatu yang belum pernah diungkapkan Bunda terhadapnya.
“Dulu
Bunda pernah punya cita-cita seperti kamu nak.. tapi semua Bunda kubur dengan
terpaksa karena saat menikah dengan Ayahmu, dia melarang Bunda meneruskan hobi
Bunda itu...dan akhirnya penyesalan itu terus berlanjut sampai di hari ini.
Bunda senang melihat bakat Bunda yang secara tak sengaja menurun padamu tapi di
sisi lain Bunda tak tahu harus bagaimana. Bunda hanya bisa mendoakanmu agar
Ayah tak memperlakukanmu lagi seperti beberapa waktu terakhir ini. Dan Bunda
yakin kamu bisa menggapai cita-citamu nak.. Doa Bunda akan selalu mengalir
untukmu”
“Jadi... dulu Bunda juga senang
menulis seperti Mutie?”
“Ya... Ayahmu baru mengetahui hobi
Bunda setelah setahun kami menikah dan ia benar-benar tak suka”
“Kenapa Bunda? Apa gara-gara gaji
seorang penulis yang sangat kecil?”
“Bukan Mut, itu hanya alibinya saja.
Sebenarnya Ayahmu bersikap seperti itu karena beliau tak mau kehilangan Bunda”
Mutie diam saja, Bunda pun melanjutkan ucapannya.
“Ayah punya anggapan dahulu Bunda
lebih mementingkan naskah-naskah yang Bunda tulis dibanding dengan keluarga
padahal tidak seperti itu. Seringnya Ayahmu melihat Bunda mengetik di komputer
lama Bunda yang kini entah ada dimana keberadaannya, ia jadi merasa kalau Bunda
tak peduli lagi terhadap Ayahmu karena sepulangnya dari kantor, Ayah selalu
melihat Bunda hanya mengetik dan mengetik terus”
“Jadi karena alasan itu sampai saat
ini Ayah yang sangat aku hormati masih tak setuju dengan pilihanku untuk
meneruskan hobiku ini” gumam Mutie. Tak berapa lama kemudian ia melihat sosok
wanita di hadapannya itu meneteskan air matanya. Mutie tak bisa menyembunyikan
perasaan kecewanya terhadap Ayah.
“Jangan pernah membenci Ayah ya...
kamu harus yakinkan Ayah bahwa kalau kamu jadi penulis nanti, kamu tak akan
pernah mengabaikannya”
“Bun,,”
“Teruskan lah mimpi Bunda sewaktu
muda dulu. Bunda sangat menaruh harapan pada kamu Mut,” Mutie refleks memeluk Bundanya dengan penuh
cinta.
“Bunda akan terus mendoakan Mutie?”
“Selalu... sayang”
***
Beberapa
minggu kemudian rumahnya di datangi seorang petugas dari kantor pos. Sebuah
paket kiriman dari penerbit buku. Mutie membukanya perlahan. Nama dirinya
tertulis jelas di cover depan.
“Siapa
yang ngirim? Waktu itu kan aku nggak sempat sampai di kantor penerbit nya..
apakah...?” dengan teriakannya yang keras ia memanggil-manggil nama orang yang
telah mengandungnya selama sembilan bulan itu.
“Bunda
nggak ada waktu untuk mengirimkan naskahmu ke penerbit” jawab Bunda saat
disinggung mengenai novelnya yang kini ia genggam.
“Lha..
terus... siapa?”
Suara
motor Ayah yang baru saja di parkirkan di depan rumah mereka membuat Mutie juga
Bunda segera menghampiri sosok laki-laki itu.
“Ayah... Mutie sayang banget sama
Ayah...” ingin rasanya Mutie beranjak dari kursi rodanya itu tapi ia belum bisa
berjalan lagi.
“Ada apa nih kok tumben bilang gitu
sama Ayah?”
“Mutie harus tahu dari mulut Ayah
langsung. Kenapa kok Ayah jadi luluh padahal kemarin-kemarin tuh Ayah tetep
ngotot nggak mau lihat anaknya jadi penulis”
“Ayah menyesal waktu dulu pernah
bersikap seperti itu juga pada ibumu jadi Ayah nggak mau mengulang kesalahan
yang sama lagi. Kamu tahu, Ayah melakukan ini karena secara diam-diam Ayah
sering melihat ibumu tak hentinya berdoa dan menangis untukmu di kamar setelah
kecelakaan itu terjadi dan Ayah pun berinisiatif mengirimkan tulisanmu itu”
“Lihat ini yah..” ucap Mutie sambil
menyodorkan buku novel pertamanya.
“Mulai
sekarang hiduplah sesuai apa yang kamu inginkan, kami berdua tak akan melarang
kamu”
“Makasih
Ayah.. Makasih Bunda.. Mutie janji pilihan Mutie ini tak akan pernah mengecewakan
siapapun..” mereka bertiga pun larut dalam dekapan kasih sayang layaknya
keluarga yang utuh.
***
Dua
bulan berlalu. Mutie akhirnya sembuh dan dapat beraktifitas kembali. Kini
dengan statusnya yang terdaftar sebagai mahasiswi jurusan sastra indonesia, ia
tetap berniat untuk mengembangkan minat serta bakatnya dalam hal menulis. Itu
semua tentunya tak lepas dari doa sang Bunda yang selalu setia mendukungnya
hingga Ayah pun yang awal mulanya bersikap keras menentang hobinya itu menjadi
luluh karena doa yang tak henti mengalir dari Ibundanya. Mutie sangat senang
bisa merealisasikan apa yang selama ini menjadi mimpi sang Bunda. Dan impian itu
kini ada pada diri putri semata wayangnya. Menjadi seorang Penulis.
***
Biodata:
Yanfa
An Nury adalah nama pena dari Dea Nuryanti. Perempuan yang kini masih menuntut
ilmu di Universitas Islam Nusantara Bandung ini, lahir pada tanggal 18 juli
1991. Gadis yang sangat menyukai K-pop dan K-drama ini dapat dihubungi melalui
FB dheya.chubbyz@facebook.com atau follow Twitter @adzadheniez . Gomawo...
(Terima kasih) J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar