Coretan Neng Dea

Coretan Neng Dea

Selasa, 18 Juni 2013

Si Mungil Yang Populer (flash fiction)

Si Mungil Yang Populer


Brukk...
Tumpukkan buku yang sengaja ku bawa dari perpus kini berserakan dimana-mana. Seperti sebuah sinetron yang telah diskenario.
“Duh... sorry...” ucap satu murid laki-laki yang menabrakku dengan logat sundanya. Mataku ku arahkan padanya dengan sinis dan bibir sedikit manyun. Aku segera pergi tanpa berkata ba-bi-bu pada segerombolan anak laki-laki itu.
“Eh tunggu... mau dibantu nggak?” ucapnya cengengesan dan dengan secepat kilat wajahnya berubah menjadi berseri-seri sambil memandangku. Aku mengacuhkannya dan terus berjalan menuju kelas X-4.
Sebagai anak baru seharusnya aku tak diperlakukan seperti ini. Baru sebulan sekolah di SMA itu sudah dapat amanat menjadi asisten ketua kelas. kalau setiap pekerjaan harus aku yang kerjakan terus tugasnya apa dong? Hmm... hubunganku dengan si pemimpin kelas itu memang terbilang kurang baik tapi yang aku heran kenapa dia memilihku menjadi wakilnya ya? Apakah ada unsur untuk balas dendam seperti yang ada di film-film? Pikiranku jadi ngaco kalau sudah memikirkannya.
Minggu ini guru mengumumkan bahwa kami satu kelompok dalam mata pelajaran biologi. Dengan sangat terpaksa aku harus bekerja sama dengannya. Selama kurang lebih satu minggu kami keluar masuk lab biologi.
Aku perhatikan dia. Orang yang sedang serius mengamati tanaman yang telah kami teliti.
Itu apa ya kok mungil-mungil gimana.. gitu. Nah lho sekarang malah pindah turun melewati bahunya yang tegap. Aih sepertinya aku tahu itu apa... Hiii... Kok bisa sih... gimana nih ngomongnya? Aku kan nggak mungkin bisa blak-blak an nanti kalau teman yang lain tahu bisa-bisa aku di panggang olehnya karena membuatnya jadi mati gaya.
Tak berapa lama binatang itu pun terjatuh karena badan Azka yang memang tak bisa diam. Aku hanya bisa tertawa kecil sambil menutup mulutku dengan buku yang aku pegang. Rena menyenggolku. “Ada apaan sih?” tanyanya.
Saat keluar dari ruangan itu aku tak kuasa menahan tawa. Aku tertawa sekeras-kerasnya ingin rasanya aku berguling-guling melihat kejadian tadi namun saat lelaki itu melintas aku langsung diam seribu bahasa. Dia merasa heran melihat tingkahku yang aneh pada saat itu.
Keesokan harinya aku mencoba melupakan apa yang telah terjadi kemarin.
“Aaaaaa...” seorang siswi di kelasku berteriak saat melihat sesuatu di mejanya.
“Ada apa?” semua orang mengerubuninya.
“Itu.... lihat..... ih.... punya siapa tuh? ih.....” siswi itu kelihatan jijik melihat dua binatang yang sama persis seperti apa yang pernah aku lihat kemarin di bahu Azka.
Hari ini kebetulan ada pelajaran olahraga. Aku bergegas mengganti bajuku dengan seragam olahraga. Aku sangat senang karena materinya hari ini adalah bermain bola basket, itu kegemaranku. Namun sialnya aku satu kelompok dengan Azka. Hufh.. aku menghela nafas panjang saat berpapasan dengannya. Selama satu jam kami bermain basket dan saat aku akan berganti pakaian kembali, terdengar teriakan dari kamar mandi laki-laki yang jaraknya tak jauh dari kamar mandi perempuan. Serentak anak-anak lain menghampiri mereka.
“Apaan ini? Jorok banget sih.. kok ada di baju aku?” ucap cowok 1
“Hah??? Ini... apaan??? Kayaknya ada yang nyebarin virus ini deh” cowok 2 ikut mengoceh
“Di baju aku juga ada. Ih kok bisa nempel di baju kita sih?” ujar cowok 3
            Aku melirik Azka yang tenang-tenang saja meninggalkan kerumunan itu dan masuk ke dalam kelas. Semenjak hari itu makin banyak siswa/siswi lain yang menemukan binatang mungil milik Azka di baju mereka, tak terkecuali aku. Sampai suatu saat gosip ini telah tersebar pada semua guru hingga para guru memerintahkan untuk menyelidiki kasus misterius ini karena sampai saat ini satu sekolahan belum tahu siapa penyebar virus itu.
            Kebetulan esok hari nya aku di suruh untuk mendata nama-nama siswa/siswi yang akan diperiksa kesehatan kepalanya. Sebelum sampai di sekolah aku mampir ke sebuah apotek terlebih dahulu untuk membeli obat kutu. Aku sibuk mencari nama Azka di daftar kontak telepon genggamku, setelah aku pencet tombol call di hapeku, barulah tersambung dan aku pun bertemu dengannya di kantin belakang. Sesegera mungkin aku berikan obat yang telah ku beli tadi padanya.
“Maksud kamu apa heh? Aku tuh nggak kutu an... ngapain pake ini segala?”
Nih anak nggak sadar banget sih kalau dia tersangkanya. Mau di bantuin malah nolak.
“Cepet pokoknya keramas aja pake obat itu. Kamu tahu kan kalau di kelas kita ketahuan ada penyebar kutu maka kita semua bisa kena hukuman” aku langsung pergi dengan langkah yang cepat.
            Pukul sebelas kelas kami kebagian diperiksa oleh dokter yang khusus didatangkan oleh para guru. Satu persatu anak mulai memasuki ruangan.
“A...Azka...” saat aku mengabsennya, ia belum tampak juga. Setelah tiga puluh menit barulah ia datang dengan rasa percaya diri yang tinggi.
“Nih... nih... silahkan diperiksa pak dokter.. bu dokter...” aku tertawa lepas karena tak kuat melihat gayanya yang menurutku sangat konyol.
            Sore pun tiba akhirnya pemeriksaan hari itu selesai juga dan dokter telah mengumumkan bahwa semua anak di sekolah itu tak ada yang mengidap penyakit kutu an. Tiba-tiba saja Azka datang menghampiriku.
“Makasih ya... akhirnya aku tahu siapa penyebar virus itu sebenarnya... kalau tahu gini dari dulu aku nggak akan keramas hanya dua minggu sekali. hehehe”
“Iya sama-sama.. jangan jorok lagi ya.. “ kami tertawa dengan tanpa beban. Mulai dari saat itu aku pun bisa berteman baik dengan si ketua kelas mantan pengidap penyakit kutu itu. Semoga saja si mungil itu tak membuat kekacauan lagi di sekolah kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar