Si Mungil Yang Populer
Brukk...
Tumpukkan
buku yang sengaja ku bawa dari perpus kini berserakan dimana-mana. Seperti
sebuah sinetron yang telah diskenario.
“Duh...
sorry...” ucap satu murid laki-laki yang menabrakku dengan logat sundanya. Mataku
ku arahkan padanya dengan sinis dan bibir sedikit manyun. Aku segera pergi
tanpa berkata ba-bi-bu pada segerombolan anak laki-laki itu.
“Eh
tunggu... mau dibantu nggak?” ucapnya cengengesan dan dengan secepat kilat wajahnya
berubah menjadi berseri-seri sambil memandangku. Aku mengacuhkannya dan terus
berjalan menuju kelas X-4.
Sebagai
anak baru seharusnya aku tak diperlakukan seperti ini. Baru sebulan sekolah di
SMA itu sudah dapat amanat menjadi asisten ketua kelas. kalau setiap pekerjaan
harus aku yang kerjakan terus tugasnya apa dong? Hmm... hubunganku dengan si
pemimpin kelas itu memang terbilang kurang baik tapi yang aku heran kenapa dia
memilihku menjadi wakilnya ya? Apakah ada unsur untuk balas dendam seperti yang
ada di film-film? Pikiranku jadi ngaco kalau sudah memikirkannya.
Minggu
ini guru mengumumkan bahwa kami satu kelompok dalam mata pelajaran biologi.
Dengan sangat terpaksa aku harus bekerja sama dengannya. Selama kurang lebih satu
minggu kami keluar masuk lab biologi.
Aku
perhatikan dia. Orang yang sedang serius mengamati tanaman yang telah kami
teliti.
Itu apa ya kok mungil-mungil
gimana.. gitu. Nah lho sekarang malah pindah turun melewati bahunya yang tegap.
Aih sepertinya aku tahu itu apa... Hiii... Kok bisa sih... gimana nih
ngomongnya? Aku kan nggak mungkin bisa blak-blak an nanti kalau teman yang lain
tahu bisa-bisa aku di panggang olehnya karena membuatnya jadi mati gaya.
Tak
berapa lama binatang itu pun terjatuh karena badan Azka yang memang tak bisa
diam. Aku hanya bisa tertawa kecil sambil menutup mulutku dengan buku yang aku
pegang. Rena menyenggolku. “Ada apaan sih?” tanyanya.
Saat
keluar dari ruangan itu aku tak kuasa menahan tawa. Aku tertawa
sekeras-kerasnya ingin rasanya aku berguling-guling melihat kejadian tadi namun
saat lelaki itu melintas aku langsung diam seribu bahasa. Dia merasa heran
melihat tingkahku yang aneh pada saat itu.
Keesokan
harinya aku mencoba melupakan apa yang telah terjadi kemarin.
“Aaaaaa...”
seorang siswi di kelasku berteriak saat melihat sesuatu di mejanya.
“Ada
apa?” semua orang mengerubuninya.
“Itu....
lihat..... ih.... punya siapa tuh? ih.....” siswi itu kelihatan jijik melihat dua
binatang yang sama persis seperti apa yang pernah aku lihat kemarin di bahu Azka.
Hari
ini kebetulan ada pelajaran olahraga. Aku bergegas mengganti bajuku dengan
seragam olahraga. Aku sangat senang karena materinya hari ini adalah bermain
bola basket, itu kegemaranku. Namun sialnya aku satu kelompok dengan Azka.
Hufh.. aku menghela nafas panjang saat berpapasan dengannya. Selama satu jam
kami bermain basket dan saat aku akan berganti pakaian kembali, terdengar
teriakan dari kamar mandi laki-laki yang jaraknya tak jauh dari kamar mandi
perempuan. Serentak anak-anak lain menghampiri mereka.
“Apaan
ini? Jorok banget sih.. kok ada di baju aku?” ucap cowok 1
“Hah???
Ini... apaan??? Kayaknya ada yang nyebarin virus ini deh” cowok 2 ikut mengoceh
“Di
baju aku juga ada. Ih kok bisa nempel di baju kita sih?” ujar cowok 3
Aku melirik Azka yang tenang-tenang
saja meninggalkan kerumunan itu dan masuk ke dalam kelas. Semenjak hari itu
makin banyak siswa/siswi lain yang menemukan binatang mungil milik Azka di baju
mereka, tak terkecuali aku. Sampai suatu saat gosip ini telah tersebar pada
semua guru hingga para guru memerintahkan untuk menyelidiki kasus misterius ini
karena sampai saat ini satu sekolahan belum tahu siapa penyebar virus itu.
Kebetulan esok hari nya aku di suruh
untuk mendata nama-nama siswa/siswi yang akan diperiksa kesehatan kepalanya.
Sebelum sampai di sekolah aku mampir ke sebuah apotek terlebih dahulu untuk
membeli obat kutu. Aku sibuk mencari nama Azka di daftar kontak telepon
genggamku, setelah aku pencet tombol call
di hapeku, barulah tersambung dan aku
pun bertemu dengannya di kantin belakang. Sesegera mungkin aku berikan obat
yang telah ku beli tadi padanya.
“Maksud
kamu apa heh? Aku tuh nggak kutu an... ngapain pake ini segala?”
Nih anak nggak sadar banget sih
kalau dia tersangkanya. Mau di bantuin malah nolak.
“Cepet
pokoknya keramas aja pake obat itu. Kamu tahu kan kalau di kelas kita ketahuan ada
penyebar kutu maka kita semua bisa kena hukuman” aku langsung pergi dengan
langkah yang cepat.
Pukul sebelas kelas kami kebagian
diperiksa oleh dokter yang khusus didatangkan oleh para guru. Satu persatu anak
mulai memasuki ruangan.
“A...Azka...”
saat aku mengabsennya, ia belum tampak juga. Setelah tiga puluh menit barulah
ia datang dengan rasa percaya diri yang tinggi.
“Nih...
nih... silahkan diperiksa pak dokter.. bu dokter...” aku tertawa lepas karena
tak kuat melihat gayanya yang menurutku sangat konyol.
Sore pun tiba akhirnya pemeriksaan
hari itu selesai juga dan dokter telah mengumumkan bahwa semua anak di sekolah
itu tak ada yang mengidap penyakit kutu an. Tiba-tiba saja Azka datang
menghampiriku.
“Makasih
ya... akhirnya aku tahu siapa penyebar virus itu sebenarnya... kalau tahu gini
dari dulu aku nggak akan keramas hanya dua minggu sekali. hehehe”
“Iya sama-sama.. jangan jorok lagi ya.. “ kami tertawa
dengan tanpa beban. Mulai dari saat itu aku pun bisa berteman baik dengan si
ketua kelas mantan pengidap penyakit kutu itu. Semoga saja si mungil itu tak
membuat kekacauan lagi di sekolah kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar