Kado Untuk Cinta
Cinta
Aulia Karina adalah nama yang diberikan oleh ke dua orang tuanya saat dia terlahir
ke dunia. Beberapa minggu lagi usianya akan genap menjadi seperempat abad. Di
detik-detik pergantian usianya, Cinta sangat resah. Bukan karena takut menjadi
tua tetapi ada satu yang masih mengganjal di hatinya. Sebagai anak paling besar
di dalam keluarga, ia merasakan egonya muncul saat mendengar kabar bahwa
adiknya telah meminta ijin untuk menikah kepada orang tuanya. Sekejap hatinya
berontak. Ia tak mau dilangkahi Raisa, adiknya. Tetapi ia tak mampu
memerdekakan keegoisannya tersebut. Ia tak tega jika membiarkan adiknya
menunggunya yang sampai detik ini belum juga menikah. Apa yang akan terjadi jika
adiknya yang masih berusia dua puluh tahun itu menikah terlebih dahulu? lalu bagaimana
dengan nasib Cinta sendiri..? Entahlah.
***
Tepat
di bulan Juni ini, delapan tahun sudah ia menjalin kasih dengan seseorang yang
keberadaannya sangatlah jauh. Lelaki itu kini berada di negeri jiran untuk melaksanakan
tugasnya sebagai seorang arsitek di sebuah perusahaan tempatnya bekerja. Mereka
berpacaran semenjak Cinta lulus SMA dan itu sudah beberapa tahun silam hingga
tak terasa sebentar lagi usianya akan menginjak dua puluh lima tahun.
“Jadi
males mau ngapa-ngapain. Kuliah
nggak, kerja nggak, married juga
nggak” ucap Raisa saat sedang menonton televisi di ruang tengah dengan maksud
menyindir Kakaknya yang baru datang.
“Makanya
lanjutin tuh kuliahnya jangan males-malesan biar bisa kerja terus nanti nikah!”
ujar Cinta.
“Buat
apa capek-capek kuliah sama kerja kalau nikahnya masih lama!” ia pun langsung
pergi meninggalkan kakak satu-satunya itu.
Cinta
mengelus dada. Ibu dan Ayahnya pun menghampiri dirinya yang sedang dilanda
kegalauan tingkat tinggi.
“Memangnya
kapan Fauzan akan pulang ke Indonesia?”
“Entahlah..
Cinta kurang tahu Bu, sudah tiga tahun dia kerja di sana tapi kalau ditanya
kapan pulang pasti jawabannya.. secepatnya”
“Seharusnya
dia ngasih kamu kepastian agar kamu pun nggak jadi terluntang lantung seperti
ini. Dijodohkan nggak mau, nikah sama dia juga masih belum pasti. Kasihan
adikmu” ujar Ayahnya dengan nada berat.
Cinta tak menyangka ke dua
orangtuanya tega berbicara seperti itu. Dari sorot mata ibundanya itu nampak
jelas bahwa beliau sangat mengharapkan anak sulungnya itu segera ke pelaminan,
begitupun harap Ayah. Rupanya keberadaan dirinya sekarang ini di rumah hanyalah
sebagai penghalang bagi kebahagiaan adiknya. Di satu sisi ia memang sudah punya
rencana untuk menikah dengan pacarnya, Fauzan tetapi di sisi lain ia pun harus
menghargai pekerjaan calon suaminya oleh sebab itu pula ia tak bisa memutuskan
untuk segera menikah walaupun adiknya seringkali terlihat kecewa karena hal
tersebut.
Dengan malas Cinta melangkahkan
kakinya ke kamar. Ia merasa kesal terhadap dirinya sendiri. Beberapa kali ia
mendengus kesal. Tak berapa lama kemudian hapenya
berdering. Dilihatnya layar handphone
dengan tanpa semangat. Namun setelah melihat ada nama Fauzan yang mengirimkan
pesan padanya, wajahnya berubah girang.
* From Fauzan
Cinta,
bagaimana kabarmu? Aku sangat merindukanmu.
* From Cinta
Berkali-kali
kata rindu kau ucapkan tapi nyatanya kau tak pernah kembali!
* From Fauzan
Bila
memang kita berjodoh, Tuhan pasti akan mempertemukan kita lagi.
SMS
terakhir yang dikirimkan oleh sang pangeran hatinya itu membuat Cinta menjadi
semakin bimbang.
***
Rutinitasnya setiap hari sebagai
seorang pegawai swasta yang bekerja di salah satu Bank membuat dirinya selalu
dikelilingi orang-orang yang tak bosan bertanya-tanya akan status Cinta yang
masih melajang hingga sampai sekarang ini. Tak ada kata yang mampu melukiskan
perasaannya saat ini. Cinta hanya dapat termenung menanti sang pujaan hatinya
pulang kembali ke tanah air.
Senja
sudah hampir tenggelam dan itu pertanda bahwa pekerjaannya pun telah usai. Terpaku
dia dalam sebuah ruangan yang selalu menjadi tempatnya untuk menyendiri. Ia
rebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Di tatapnya layar handphone yang ia genggam dengan tangan
kanannya, ia mulai membuka inbox yang
tersimpan di dalam pesannya. Belum ada SMS
masuk dari kekasihnya di hari ini. Ia lirik kalender yang terpajang di atas
mejanya. Ia ambil dan ia lingkari salah satu tanggal yang ada pada bulan Oktober,
bulan dimana kekasih hatinya itu berjanji akan pulang ke Indonesia setelah tiga
tahun merantau di negeri orang.
“Kak...
Kakak!” terdengar adiknya memanggil dirinya dengan suara yang melengking.
Dengan malas ia pun turun dari ranjangnya dan menghampiri Raisa.
“Kak,
dandan dulu dong.. sini.. sini..” Raisa menarik tangannya untuk kembali ke
dalam kamar dan mulai memoleskan bedak di wajah dan lipglos di bibir kakaknya.
“Eh..
apa-apaan nih? Ngapain Kakak harus dandan dulu segala?” Cinta yang merasa heran
hanya bisa pasrah saat wajahnya di permak oleh adik kesayangannya itu.
“Pokoknya
Kakak nanti bakal tau deh... nah udah cantik. Yuk cepet keluar kak!” tangan
adiknya masih menggenggam erat tangan kakaknya dan berjalan dengan wajah yang
amat berseri-seri. Dalam hatinya Cinta hanya menebak-nebak apa yang akan
dilakukan Raisa padanya.
Tibalah mereka berdua di ruang tamu.
Cinta menengok pada lelaki yang duduk di sampingnya. Lelaki itu terlihat sangat
ramah dengan menebarkan senyuman terus menerus padanya.
“Ngobrol dulu aja ya Kak, Aku sama
pacarku mau keluar dulu” bisik Raisa dengan cengengesan. Cinta baru mengerti
saat adiknya pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
“Nama saya De.. De.. Deni” ucapnya
dengan nada grogi sambil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman. Namun
Cinta tak meraih tangan itu, ia hanya tersenyum dengan terpaksa.
***
Keesokan harinya Cinta tak mau
berbicara pada adiknya, ia merasa kecewa dengan sikap adiknya itu yang
mengenalkan dirinya pada temannya dengan tanpa persetujuannya terlebih dahulu.
Dengan segala cara Raisa merayu agar kakaknya itu mau membuka hatinya untuk
lelaki yang ia kenalkan kemarin tapi nyatanya Cinta tak mau menanggapi
celotehan adiknya. Ia berusaha menghindar dengan mengacuhkan apa yang
dibicarakan oleh adiknya.
Suatu saat Raisa sedang mengobrol
dengan pacarnya dan lagi-lagi membicarakan soal kakak kandungnya itu.
“Padahal kan Aku lakuin ini semua
agar Kak Cinta bahagia. Ya... mudah-mudah an ini semua bisa menjadi kado
buatnya, kan sebentar lagi Kakakku ulang tahun”
Raisa
tak tahu saat berbicara seperti itu ada seorang perempuan yang tak sengaja
melintas di belakang mereka. Perempuan itu menghentikan langkahnya sejenak dan
memandangi mata adiknya dengan rasa kecewa yang teramat besar. Cinta sangat
tahu niat adiknya tak setulus apa yang baru saja diucapkannya.
Raisa berusaha mengelak tuduhan yang
tersirat dari mata perempuan itu. Ia berlari mengikuti Kakaknya walau akhirnya
mereka tak dapat saling menjelaskan kesalah paham an itu, lagi-lagi Cinta
mengunci dirinya di kamarnya.
Hampir
selama empat hari Cinta tak mau menyapa adiknya. Raisa tak tahu harus berbuat
apa untuk bisa berbaikan dengan kakaknya. Tiba-tiba terlintas sebuah ide
dibenaknya. Semoga kali ini kakak tidak akan marah! Batin Raisa sambil
tersenyum dikulum.
***
Jarum
jam menunjuk angka satu, terdengar suara benda jatuh diruang tengah, memecahkan
kesunyian malam. Cinta terbangun dengan jantung memburu karena takut. Suara apa
itu? Batinnya. Ia mendapati dirinya dalam gelap gulita. Diberanikan dirinya
melangkah keluar kamar. Cinta memanggil-manggil ke dua orangtuanya dan Raisa tapi
hanya sunyi, tak ada sahutan. Satu persatu pintu kamar dibukanya tetapi tak
diketemukan siapapun disana.
Masih
dalam ketakutan yang menguasai pikirannya, ia mendengar pintu rumahnya berkali-kali
diketuk oleh seseorang dengan sangat keras. Kakinya seolah tak mampu digerakkan
karena kini keberaniannya mulai menciut.
Saat
Cinta mencapai puncak rasa takutnya, tiba-tiba lampu dan listrik mendadak menyala
kembali. Segerombolan orang masuk ke dalam rumahnya dengan menyanyikan lagu happy birthday. Satu pemandangan yang
membuatnya tak percaya adalah kehadiran sosok lelaki itu di antara ke dua
orangtuanya, adiknya serta teman dekatnya. Ya... Fauzan datang di hari lahirnya
tersebut. Ternyata selama ini Fauzan bekerja sama dengan Raisa untuk memberi
kejutan pada Cinta.
“Would you marry me?” ucap Fauzan.
Lelaki
itu mengeluarkan sebuah cincin yang di simpannya dalam sebuah kotak perhiasan
kecil berwarna merah. Cinta tak bisa menyembunyikan perasaannya lagi selama
ini. Ia mengangguk seolah tak memperdulikan tentang persetujuan keluarganya
saat menerima ajakan Fauzan untuk menikah karena ia tahu ini lah yang di
inginkan keluarganya dan di inginkannya juga.
“I will” jawab Cinta dengan semangat.
Kini
jari manis di tangan kanannya terisi oleh sebuah pengikat kesetiaan antara
Cinta dan Fauzan.
“Makasih ya atas kado spesial ini...” ungkap
Cinta pada calon suaminya itu.
Cinta pun memeluk ke dua orang tuanya serta adik
kesayangannya dengan penuh cinta.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar