Coretan Neng Dea

Coretan Neng Dea

Selasa, 18 Juni 2013

Kado Untuk Cinta (cerpen)

Kado Untuk Cinta


Cinta Aulia Karina adalah nama yang diberikan oleh ke dua orang tuanya saat dia terlahir ke dunia. Beberapa minggu lagi usianya akan genap menjadi seperempat abad. Di detik-detik pergantian usianya, Cinta sangat resah. Bukan karena takut menjadi tua tetapi ada satu yang masih mengganjal di hatinya. Sebagai anak paling besar di dalam keluarga, ia merasakan egonya muncul saat mendengar kabar bahwa adiknya telah meminta ijin untuk menikah kepada orang tuanya. Sekejap hatinya berontak. Ia tak mau dilangkahi Raisa, adiknya. Tetapi ia tak mampu memerdekakan keegoisannya tersebut. Ia tak tega jika membiarkan adiknya menunggunya yang sampai detik ini belum juga menikah. Apa yang akan terjadi jika adiknya yang masih berusia dua puluh tahun itu menikah terlebih dahulu? lalu bagaimana dengan nasib Cinta sendiri..? Entahlah.
***
Tepat di bulan Juni ini, delapan tahun sudah ia menjalin kasih dengan seseorang yang keberadaannya sangatlah jauh. Lelaki itu kini berada di negeri jiran untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang arsitek di sebuah perusahaan tempatnya bekerja. Mereka berpacaran semenjak Cinta lulus SMA dan itu sudah beberapa tahun silam hingga tak terasa sebentar lagi usianya akan menginjak dua puluh lima tahun.
“Jadi males mau ngapa-ngapain. Kuliah nggak, kerja nggak, married juga nggak” ucap Raisa saat sedang menonton televisi di ruang tengah dengan maksud menyindir Kakaknya yang baru datang.
“Makanya lanjutin tuh kuliahnya jangan males-malesan biar bisa kerja terus nanti nikah!” ujar Cinta.
“Buat apa capek-capek kuliah sama kerja kalau nikahnya masih lama!” ia pun langsung pergi meninggalkan kakak satu-satunya itu.
Cinta mengelus dada. Ibu dan Ayahnya pun menghampiri dirinya yang sedang dilanda kegalauan tingkat tinggi.
“Memangnya kapan Fauzan akan pulang ke Indonesia?”
“Entahlah.. Cinta kurang tahu Bu, sudah tiga tahun dia kerja di sana tapi kalau ditanya kapan pulang pasti jawabannya.. secepatnya”
“Seharusnya dia ngasih kamu kepastian agar kamu pun nggak jadi terluntang lantung seperti ini. Dijodohkan nggak mau, nikah sama dia juga masih belum pasti. Kasihan adikmu” ujar Ayahnya dengan nada berat.
            Cinta tak menyangka ke dua orangtuanya tega berbicara seperti itu. Dari sorot mata ibundanya itu nampak jelas bahwa beliau sangat mengharapkan anak sulungnya itu segera ke pelaminan, begitupun harap Ayah. Rupanya keberadaan dirinya sekarang ini di rumah hanyalah sebagai penghalang bagi kebahagiaan adiknya. Di satu sisi ia memang sudah punya rencana untuk menikah dengan pacarnya, Fauzan tetapi di sisi lain ia pun harus menghargai pekerjaan calon suaminya oleh sebab itu pula ia tak bisa memutuskan untuk segera menikah walaupun adiknya seringkali terlihat kecewa karena hal tersebut.
            Dengan malas Cinta melangkahkan kakinya ke kamar. Ia merasa kesal terhadap dirinya sendiri. Beberapa kali ia mendengus kesal. Tak berapa lama kemudian hapenya berdering. Dilihatnya layar handphone dengan tanpa semangat. Namun setelah melihat ada nama Fauzan yang mengirimkan pesan padanya, wajahnya berubah girang.
* From Fauzan
Cinta, bagaimana kabarmu? Aku sangat merindukanmu.
* From Cinta
Berkali-kali kata rindu kau ucapkan tapi nyatanya kau tak pernah kembali!
* From Fauzan
Bila memang kita berjodoh, Tuhan pasti akan mempertemukan kita lagi.
            SMS terakhir yang dikirimkan oleh sang pangeran hatinya itu membuat Cinta menjadi semakin bimbang.
***
            Rutinitasnya setiap hari sebagai seorang pegawai swasta yang bekerja di salah satu Bank membuat dirinya selalu dikelilingi orang-orang yang tak bosan bertanya-tanya akan status Cinta yang masih melajang hingga sampai sekarang ini. Tak ada kata yang mampu melukiskan perasaannya saat ini. Cinta hanya dapat termenung menanti sang pujaan hatinya pulang kembali ke tanah air.
Senja sudah hampir tenggelam dan itu pertanda bahwa pekerjaannya pun telah usai. Terpaku dia dalam sebuah ruangan yang selalu menjadi tempatnya untuk menyendiri. Ia rebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Di tatapnya layar handphone yang ia genggam dengan tangan kanannya, ia mulai membuka inbox yang tersimpan di dalam pesannya. Belum ada SMS masuk dari kekasihnya di hari ini. Ia lirik kalender yang terpajang di atas mejanya. Ia ambil dan ia lingkari salah satu tanggal yang ada pada bulan Oktober, bulan dimana kekasih hatinya itu berjanji akan pulang ke Indonesia setelah tiga tahun merantau di negeri orang.
“Kak... Kakak!” terdengar adiknya memanggil dirinya dengan suara yang melengking. Dengan malas ia pun turun dari ranjangnya dan menghampiri Raisa.
“Kak, dandan dulu dong.. sini.. sini..” Raisa menarik tangannya untuk kembali ke dalam kamar dan mulai memoleskan bedak di wajah dan lipglos di bibir kakaknya.
“Eh.. apa-apaan nih? Ngapain Kakak harus dandan dulu segala?” Cinta yang merasa heran hanya bisa pasrah saat wajahnya di permak oleh adik kesayangannya itu.
“Pokoknya Kakak nanti bakal tau deh... nah udah cantik. Yuk cepet keluar kak!” tangan adiknya masih menggenggam erat tangan kakaknya dan berjalan dengan wajah yang amat berseri-seri. Dalam hatinya Cinta hanya menebak-nebak apa yang akan dilakukan Raisa padanya.
            Tibalah mereka berdua di ruang tamu. Cinta menengok pada lelaki yang duduk di sampingnya. Lelaki itu terlihat sangat ramah dengan menebarkan senyuman terus menerus padanya.
            “Ngobrol dulu aja ya Kak, Aku sama pacarku mau keluar dulu” bisik Raisa dengan cengengesan. Cinta baru mengerti saat adiknya pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
            “Nama saya De.. De.. Deni” ucapnya dengan nada grogi sambil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman. Namun Cinta tak meraih tangan itu, ia hanya tersenyum dengan terpaksa.
***
            Keesokan harinya Cinta tak mau berbicara pada adiknya, ia merasa kecewa dengan sikap adiknya itu yang mengenalkan dirinya pada temannya dengan tanpa persetujuannya terlebih dahulu. Dengan segala cara Raisa merayu agar kakaknya itu mau membuka hatinya untuk lelaki yang ia kenalkan kemarin tapi nyatanya Cinta tak mau menanggapi celotehan adiknya. Ia berusaha menghindar dengan mengacuhkan apa yang dibicarakan oleh adiknya.
            Suatu saat Raisa sedang mengobrol dengan pacarnya dan lagi-lagi membicarakan soal kakak kandungnya itu.
            “Padahal kan Aku lakuin ini semua agar Kak Cinta bahagia. Ya... mudah-mudah an ini semua bisa menjadi kado buatnya, kan sebentar lagi Kakakku ulang tahun”
Raisa tak tahu saat berbicara seperti itu ada seorang perempuan yang tak sengaja melintas di belakang mereka. Perempuan itu menghentikan langkahnya sejenak dan memandangi mata adiknya dengan rasa kecewa yang teramat besar. Cinta sangat tahu niat adiknya tak setulus apa yang baru saja diucapkannya.
            Raisa berusaha mengelak tuduhan yang tersirat dari mata perempuan itu. Ia berlari mengikuti Kakaknya walau akhirnya mereka tak dapat saling menjelaskan kesalah paham an itu, lagi-lagi Cinta mengunci dirinya di kamarnya.
Hampir selama empat hari Cinta tak mau menyapa adiknya. Raisa tak tahu harus berbuat apa untuk bisa berbaikan dengan kakaknya. Tiba-tiba terlintas sebuah ide dibenaknya. Semoga kali ini kakak tidak akan marah! Batin Raisa sambil tersenyum dikulum.
***
Jarum jam menunjuk angka satu, terdengar suara benda jatuh diruang tengah, memecahkan kesunyian malam. Cinta terbangun dengan jantung memburu karena takut. Suara apa itu? Batinnya. Ia mendapati dirinya dalam gelap gulita. Diberanikan dirinya melangkah keluar kamar. Cinta memanggil-manggil ke dua orangtuanya dan Raisa tapi hanya sunyi, tak ada sahutan. Satu persatu pintu kamar dibukanya tetapi tak diketemukan siapapun disana.
Masih dalam ketakutan yang menguasai pikirannya, ia mendengar pintu rumahnya berkali-kali diketuk oleh seseorang dengan sangat keras. Kakinya seolah tak mampu digerakkan karena kini keberaniannya mulai menciut.
Saat Cinta mencapai puncak rasa takutnya, tiba-tiba lampu dan listrik mendadak menyala kembali. Segerombolan orang masuk ke dalam rumahnya dengan menyanyikan lagu happy birthday. Satu pemandangan yang membuatnya tak percaya adalah kehadiran sosok lelaki itu di antara ke dua orangtuanya, adiknya serta teman dekatnya. Ya... Fauzan datang di hari lahirnya tersebut. Ternyata selama ini Fauzan bekerja sama dengan Raisa untuk memberi kejutan pada Cinta.
Would you marry me?” ucap Fauzan.
Lelaki itu mengeluarkan sebuah cincin yang di simpannya dalam sebuah kotak perhiasan kecil berwarna merah. Cinta tak bisa menyembunyikan perasaannya lagi selama ini. Ia mengangguk seolah tak memperdulikan tentang persetujuan keluarganya saat menerima ajakan Fauzan untuk menikah karena ia tahu ini lah yang di inginkan keluarganya dan di inginkannya juga.
I will” jawab Cinta dengan semangat.
Kini jari manis di tangan kanannya terisi oleh sebuah pengikat kesetiaan antara Cinta dan Fauzan.
 “Makasih ya atas kado spesial ini...” ungkap Cinta pada calon suaminya itu.
            Cinta pun memeluk ke dua orang tuanya serta adik kesayangannya dengan penuh cinta.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar