Coretan Neng Dea

Coretan Neng Dea

Selasa, 18 Juni 2013

Dermaga Penantianku (cerpen)

Dermaga Penantianku


Saat itu usiaku belum genap delapan belas tahun. Sebagai anak bungsu didalam keluarga, Aku sangat dekat sekali dengan ayah karena semenjak ibuku meninggal dunia setelah melahirkanku, sosok orangtua yang Aku kenal hanyalah beliau. Aku mempunyai tiga kakak kandung, dua diantaranya sudah menikah dan berkeluarga dan kini sudah tak lagi tinggal bersama kami sedangkan kakakku yang satu lagi jarak usianya hanya berbeda tiga tahun dariku dan masih betah melajang hingga sampai saat ini.
Hanya berstatus sebagai lulusan sekolah menengah atas, Aku seringkali membantu Ayah berjualan makanan dan minuman ringan ditempat Ayah bekerja. Ayah adalah seorang pegawai kebersihan biasa di sebuah pelabuhan dengan gaji yang cukup lumayan. Terkadang Ayah di ajak ikut berlayar untuk sekedar mengerjakan tugasnya yaitu membersihkan kapal.
***
Seperti biasanya hari ini Ayah menyuruhku untuk segera datang ke pelabuhan. Pukul lima subuh Aku sudah stand by di tempat di mana kami mencari sesuap nasi. Untungnya sepeda bututku masih setia mengantarku kesana kemari. Evan, Kakakku bekerja di tempat yang berbeda. Hari ini Ayah datang agak siang jadi Aku yang harus membereskan dan mengecek makanan apa saja yang masih ada dan sudah habis di toko kami.
Tak biasanya di hari senin ini dermaga dipadati oleh banyak orang berseragam putih biru. Setelah mendengar percakapan dua orang ibu di sebelah ku ternyata hari ini ada pelepasan sekolah pelayaran. Pantas saja banyak anak muda berseragam putih biru itu mengantri untuk dapat masuk ke dalam kapal. Di kota kami memang terkenal dengan sekolah pelayarannya karena letaknya yang di kelilingi oleh perairan. Sebelum mereka naik ke dalam kapal, beberapa di antaranya mampir terlebih dahulu ke toko kecil ku hanya sekedar untuk membeli minum ataupun cemilan makanan.
Di antara beberapa siswa itu ada satu orang yang kulihat terus memperhatikan gerak gerikku. Karena merasa risih dibuatnya, akhirnya Aku menatapnya dengan tatapan tajam dengan maksud agar laki-laki itu segera mengalihkan pandangannya akan tetapi lelaki itu malah tersenyum. Manis sekali. Tak berapa lama kemudian mereka pun bersiap-siap naik ke kapal.
“Mbak ada salam tuh dari orang itu!” ucap seorang siswa dan telunjuknya menunjuk pada orang yang memperhatikan diriku sedari tadi. Dari kejauhan sempat-sempatnya orang tersebut melambaikan tangan padaku.
Bersamaan dengan itu, Aku dikagetkan dengan suara Ayah yang muncul secara tiba-tiba dari belakang. Ku lihat sosok lelaki lima puluh tahun an itu sedang sibuk membereskan barang-barang yang kemudian dimasukannya ke dalam ransel besarnya.
Aku baru ingat ini bulan ke enam dalam tahun ini dan itu waktunya Ayah ditugaskan untuk ikut berlayar ke luar pulau. Setelah Ayah merasa semua barangnya telah siap, beliau pun berpamitan padaku dan cepat-cepat masuk ke kapal yang juga dinaiki oleh segerombolan siswa sekolah pelayaran tadi.
Aku pun meraih handphone yang sengaja ku simpan di bawah etalase toko lalu jempolku mulai mengetik dengan lincahnya di atas tombol-tombol telpon genggamku itu. Semoga Kakakku segera membaca pesan singkat yang baru saja kukirimkan padanya bahwa Ayah sudah berangkat.
Keesokan harinya tak ada yang berubah meski di rumah kini hanya ada Aku beserta kakakku saja. Dahulu sempat terfikir dibenakku untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah tapi melihat keadaan yang tak memungkinkan akhirnya Aku harus mengurungkan niatku tersebut. Melakukan rutinitas sebagai penjaga toko sendiri adalah pekerjaan yang cukup menyenangkan karena tak perlu disuruh-suruh oleh atasan, selain itu juga tempat kami berjualan pun Aku pikir cukup strategis. Meski tak pernah menaiki kapal tapi entah mengapa Aku merasa senang melihat pemandangan kapal yang berlayar di sekitar pelabuhan tempatku berjualan.
***
Enam bulan telah berlalu dan Aku masih mengingat dengan jelas wajah orang yang kini datang menghampiri tokoku. Ia duduk di kursi yang tak begitu luas yang diletakan di depan kaca etalase toko kami.
“Umay” Ucapnya dengan nada ramah sambil menyodorkan tangan kanannya padaku.
“A..aku.. Dara” jawabku dengan sedikit tersenyum.
Kini lelaki berusia dua puluh tahun itu tak terlalu membuatku merasa terganggu lagi dengan tatapan anehnya seperti kesan pertama dahulu saat ia mengunjungi tokoku dengan teman-teman dari sekolah pelayarannya. Cukup lama kami mengobrol hingga Aku tahu ternyata dia adalah salah satu alumni dari sekolah pelayaran itu dan kini lebih sering ikut berlayar dan tak hanya ke luar pulau saja tetapi pernah juga sampai ke luar negeri. Ia akan ikut berlayar setiap enam bulan sekali persis seperti ayahku, bedanya ayahku ikut berlayar karena beliau ditugaskan untuk menjaga dan membersihkan kapal tak sama seperti apa yang dilakukan Umay tentunya.
Kami mengobrol sangat akrab karena ternyata ia juga mengenal Ayahku sewaktu di kapal. Sebelumnya ayahpun pernah menceritakan sosok pemuda baik hati yang dikenalnya secara tak sengaja saat berlayar namun karena saat itu aku tak tertarik dengan ceritanya aku pun tak bertanya lebih jauh tentang siapa pemuda tersebut.
***
Sesampainya di rumah, Aku bergegas menemui Ayah yang sedang asyik membaca koran di kursi ruang tamu. Aku mulai membuka percakapan meski akhirnya sedikit demi sedikit Aku mulai bertanya mengenai orang itu tetapi sepertinya Ayah tahu maksudku yang sebenarnya dengan membaca gelagatku yang salting (salah tingkah).
Tak pernah ada waktu yang paling ku tunggu selain pagi hari karena saat itu pula lah Aku bisa kembali ke pelabuhan bukan untuk melihat orang yang berlalu lalang tetapi untuk berjumpa dengan seseorang.
***
Pagi ini adalah sabtu yang sangat cerah. Lima bulan sudah Aku berteman baik dengan dirinya. Banyak hal yang kami ceritakan. Mungkin karena banyak persamaan juga pada diri masing-masing dan akhirnya itu yang menjadikan kami selalu connect saat mengobrol.
Akan tetapi kali ini Aku harus ditemani oleh Kakakku untuk menjaga toko. Sempat terbesit dalam pikiranku untuk menyuruh kakak laki-lakiku itu pulang karena sebentar lagi akan ada yang mencariku. Tetapi tak ada alasan kuat untuk mengusirnya. Beberapa menit kemudian pembeli mulai berdatangan. Seharusnya jam segini ia sudah datang tapi hingga pukul dua siang batang hidungnya tak muncul-muncul.
“Dara, Kakak pulang ya soalnya harus nganterin barang ke rumah teman” ucap Kakakku dengan mata sedikit mengantuk.
“Oke..” jawabku sumringah.
“Lho.. ditemenin cemberut, nah ini mau ditinggalin malah seneng banget kayaknya” agar tak membuatnya curiga, Aku pun memasang wajah paling imut didepan kakak kandungku itu.
Setelah Kak Evan pergi, keadaan toko pun tak terlihat perbedaannya. Tak terlalu sepi namun tak terlalu ramai juga. Aku pun menyibukkan diri dengan bermain games di telpon genggamku. Tak terasa dua jam pun berlalu dan kini mataku mulai lelah karena menatap layar handphone terlalu lama. Baru saja kedua mataku ingin menutup tiba-tiba terdengar seseorang yang suaranya mulai familiar di telingaku. Aku beranjak dan keluar toko untuk menghampiri pembeli tersebut.
Ku lirik jam yang melekat di tangan kiri lelaki itu. Sudah pukul empat lebih. Aku bisa menebak pasti hari ini ia terlambat ke pelabuhan karena pekerjaan sampingannya sebagai Tours guide memakan waktu yang cukup lama.
“Oya Ra, Aku punya sesuatu buatmu” Aku hanya mengira-ngira barang apa yang akan ia berikan padaku dan tak berapa lama kemudian ia pun mengeluarkan sebuah bungkusan kecil yang dikeluarkan dari saku jacketnya.
Setelah ku buka plastik yang membungkus benda itu, ku temukan sebuah kalung berinisial nama kami berdua terpajang didalam kotak kecil berwarna merah.
“Anggap aja ini sebagai hadiah dari sahabatmu, Ra” ia pun memasangkannya tepat di leherku. Namun entah mengapa Aku merasakan kesedihan yang mendalam saat ia mengutarakan bahwa esok hari ia akan kembali berlayar.
***
Aku tak pernah mengerti apa arti perasaan yang berkecimuk didalam dadaku saat ini. Saat melihatnya pergi, dengan secepat kilat Aku merasa separuh hatiku ini telah ikut dibawa pergi olehnya.
“Di dermaga ini pasti kita akan bertemu kembali” itulah kata-kata terakhirnya yang kudengar saat ia akan meninggalkan pelabuhan.
Kali ini Ayahku tak ikut berlayar dengan rombongannya. Itu juga salah satu yang membuat diriku mengkhawatirkan keadaannya. Apa yang bisa kuperbuat disini saat menunggunya kembali, tak ada. Aku tak bisa menghubunginya dengan alat-alat canggih zaman modern sekarang ini. Satu-satunya yang ku lakukan adalah menantinya mengunjungiku kembali di dermaga ini, di pelabuhan ini.
Dermaga ini mempunyai kenangan yang tak pernah bisa ku lupakan. Disini Aku bertemu untuk pertama kalinya dengan dirinya dan disini pula Aku harus melihatnya pergi untuk berlayar kembali.
***
Delapan bulan Aku tak mendapatkan kabar tentangnya. Saat bertanya pada teman-temannya di sini, ternyata ia memang belum pulang. Selesai menutup toko Aku selalu menyempatkan diri ke dermaga untuk mencari dirinya. Mungkin saja ia akan ada saat Aku berada di tempat itu. Tetapi harapanku itu ku kubur dalam-dalam saat mengetahui dirinya belum muncul juga.
Di saat-saat kegelisahan menerpa hatiku, tiba-tiba Ayah membawa kabar bahagia. Katanya, kapal yang membawa Umay berlayar dini hari akan sampai di pelabuhan. Ku putuskan sampai dini hari nanti Aku akan tetap menunggunya di sana. Di dermaga, tempat dimana kami berjanji akan berjumpa lagi.
Pukul 00.30 terdengar sayup-sayup keramaian yang berasal dari luar. Aku segera keluar dan mengunci toko. Dermaga pada jam seperti ini sangat dipadati banyak orang. Aku tak bisa langsung menemukan sosok lelaki itu. Setelah berkeliling mencarinya ternyata Aku tahu bahwa itu bukan kapal yang ditumpanginya. Kecewa pun menjalar di seluruh perasaanku. Dengan sangat terpaksa Aku meninggalkan dermaga itu dan kembali ke rumah.
***
Berbulan-bulan telah ku lewati tanpa sosok lelaki yang ku akui telah menorehkan rasa itu di lubuk hatiku.
“Cuaca memang sedang kurang baik jadi tak heran kalau kapal yang dipakai berlayar oleh Umay sedikit terlambat sampai ke pelabuhan” jelas Ayah padaku.
Ini adalah tahun ke dua diriku menjalani aktifitas tanpa mengetahui keberadaannya. Beberapa kali Ayah menenangkanku tetapi entah mengapa hati kecil ini akhirnya selalu mencemaskan pemuda itu.
Disaat keputusasaan menguasai pikiranku tiba-tiba saja Aku ingin sekali pergi ke dermaga, tentunya masih berharap agar bisa bertemu lagi dengannya. berjam-jam Aku diam di sana hingga Aku tak sadarkan diri saat ada sebuah kapal yang baru saja sampai di pelabuhan. Pikiranku masih penuh oleh bayang-bayang lelaki itu.
Tiba-tiba Aku merasakan ada dua tangan yang menutup mataku dari arah belakang. Dengan sekuat tenaga Aku mencoba melepaskan tangannya yang besar itu. Tapi Aku tak bisa berbuat apa-apa saat wajahku berada tepat sejajar dengan wajahnya. Aku memukuli badannya dengan maksud menumpahkan kekesalan hatiku yang selama ini telah menunggu kedatangan dirinya.
            Dermaga ini adalah saksi penantianku terhadapnya dan di dermaga ini pula akhirnya kami saling mengetahui benih-benih cinta yang kini telah tumbuh di hati kami berdua. Umay berjanji akan berada di sisiku mulai dari detik ini dan ia juga tak akan mau membiarkanku menunggunya terlalu lama lagi untuk yang kedua kalinya.

***

2 komentar:

  1. wahh keren juga.. walau sudah 6 bulan berlalu.. namun masih ttp bisa mengingat wajahnya ;) siip dehh :)

    Wahidiyah Jakarta

    BalasHapus
  2. hehe.. itulah keajaiban sebuah cerpen ^^ imajinasi tapi bs juga berasal dr pengalaman (orang) mungkin diluar sana ada yg bs lebih dr 6 bln '-'

    BalasHapus